
Kemiskinan terjadi tidak melulu disebabkan oleh faktor eksternal, tetapi juga ada modal internal dalam tubuh kemiskinan itu sendiri yang sudah melekat dan membudaya
Aku adalah salah satu orang miskin dari jutaan orang miskin yang menghuni bumi ini. Sebagai orang miskin, sekali-kali saya harus jujur tentang keberadaan dan posisi kami sebagai orang miskin.
Begini. Terbayang dalam benak anda, bahwa orang miskin adalah korban. Korban dari struktur sosial yang timpang, struktur ekonomi yang amburadul, iklim politik yang tidak kondusif dan kealpaan orang-orang kaya, atau para pembuat kebijakan yang mendermakan perhatiannya kepada kami orang miskin.
Tetapi. Jika mau jujur, apa yang anda bayangkan tentang kami bahwa kami adalah korban dari dan karena faktor penyebab eksternal tidaklah melulu benar. Sesungguhnya ada kekurangan dan kelemahan yang memang kami-lah yang membuatnya sendiri.
Mau tahu? Kelemahan kami yang pertama adalah kami terlanjur menerima dan memaklumi bahwa kami miskin. Dan karena kami menerima diri sebagai miskin, tanpa sadar sebenarnya kami menikmati dunia itu. Dunia korban. Terlepas dari kemauan anda untuk membuat kami menjadi korban di satu sisi, atau menjadi manusia yang mesti diselamatkan di sisi yang lain, sebenarnya kami berada pada posisi yang paling beruntung, yakni sebagai korban. Kami diperhatikan.
Kelemahan kami yang kedua adalah kami telah menjadi menjadikan kemiskinan sebagai budaya. Dalam kebuadayaan orang-orang miskin terdapat aturan-aturan yang tidak bisa dilanggar, terdapat kebiasaan-kebiasaan yang pantas untuk diwariskan juga memiliki struktur dan kedudukan sosialnya sendiri. Aturan kami orang miskin adalah sehari makan sekali. Dan itu jika mungkin. Kami tidak memiliki waktu rekreasi, karena sepanjang hari kami mencari sesuap nasi.
Filosophi dasar kami orang miskin adalah carpediem, nikmatilah hari ini. Kami lelah memikirkan mimpi-mimpi. Entah karena anda tidak memberikan kami peluang untuk bermimpi, atau karena memang kami sendiri yang ditakdirkan untuk tidak bermimpi, sebenarnya dengan cukup dapat makan hari ini saja, maka mimpi kami terpenuhi.
Maaf. Ini budaya kami. Jangan anda mengusik. Walau sebagian dari anda ada yang mengatakan: ”Aku tidak peduli dengan rengekkan mereka, yang miskin dan menderita, tapi jari-jarinya tetap mulus karena tidak mau berjuang. Atau berkoar-koar hingga liur kerontang dan tinta pena mongering, sedang mereka menyumbat telinga dengan bantal”
Atau ada yang lain dari anda mengumpat kami: ”Bagiku itu adalah tipu muslihat dan kemunafikan. Menggusurlah mereka karena kebandelannya. Buanglah mereka ke tempat sampah karena kemalasannya. Usirlah dari muka bumi karena mengemisnya. Aku tidak selalu iba dengan tangisan mereka”
Memang ada benarnya juga katamu. Sampai-sampai ada yang lain dari anda berteriak sambil melihat kami di bawah tapak kakinya: ”Penderitaan mereka adalah milik mereka. Itu semua bukan karena ketakberdayaan, yang memang karena tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi karena kesengajaan agar terus dimanja. Aku tak akan pernah menjadi bagian dari air mata mereka. Apalagi menjadi satu kubur bersama mereka. Aku punya nisan sendiri. Nisan yang terbuka untuk dikutuk karena tidak berbelah kasih. Nisan yang boleh kau stigma sebagai pemberontak. Saudara…nisan kita berbeda”
Bagi kami orang-orang miskin, apa yang anda katakan itu benar. Memang kami lemah dan tidak berdaya, sudah sepantasnya kami berada di telapak kakimu. Karena memang tidak memlulu salahmu. Tapi salah kami juga. Umpatanmu kami terima. Terima kasih.











































4 tanggapan kepada “Korban Kata”
Yeo
Maret 5th, 2010 pada 08:34
Cerdas! Tulisannya bikin yang miskin tertonjok, yang kaya tertohok. Tapi memang begitu kenyataannya. Terimakasih sudah jujur, saya tertohok.
Krispianus Bheda Somerpes
Maret 5th, 2010 pada 08:51
Yeo, thnks ya telah mengunjungi blog ini, semoga kita bisa berbagi
Yeo
Maret 5th, 2010 pada 09:09
Ok.
Rahma
Maret 8th, 2010 pada 00:28
Tulisan yang penuh makna.