Untuk apa aku menuliskan kata? sebuah pertenyaan yang datang berkelebat lalu hilang. Kadang mencemaskan, tetapi pada saat yang sama memberikan nyawa.

Untuk apa aku menuliskan kata? Pertanyaan ini sudah sedang dan bahkan selalu terlontar dalam setiap sepiku. Ketika aku hendak menuliskan kata, ketika aku sedang menuliskannya, ketika aku hendak membacanya lagi dan seusai aku menghadirkan ke ruang baca pembaca, pertanyaan itu selalu datang. Berkelebat. Lalu hilang.

Selalu setiap pertanyaan itu datang, aku selalu dihadapkan pada dua titik yang antara satu dengan yang lainnya bertolak belakang. Di kutub yang satu aku dibuatnya bagai hamba sahaya. Di sisi yang lain aku dibuatnya bagai dewa. Pertanyaan itu datang menyelimuti bagai gulita, serentak pada saat yang sama memberikan titik cerah.

Untuk apa aku menuliskan kata? Pertanyaan itu datang menghujam ruang sepiku, mencemaskan aku, sampai aku seperti terpenjara pada ketakberdayaan. Seakan-akan aku tidak punya apa-apa selain kata. Aku benar-benar tidak bermanfaat. Aku hanya bagai sekumpulan huruf yang jika dirangkai menjadi kata akan terbaca sebagai omong kosong, pembual, pembohong, penipu, pelipur sampai tak dapat dilukiskan dengan kata, karena memang hampa makna.

Namun, pada saat yang persis sama, aku menemukan diriku sendiri. Bahwa dalam ketakberdayaan, dalam kecemasan yang mendalam, dalam ketakberdayaan itu aku ada. Aku menjadi benar-benar berfaedah, berguna, dan bermanfaat bagi setiap penyimak kata. Aku menyadari bahwa ketakmampuanku adalah oase bagi jiwa yang sudah sedang mencari arti dan makna kehidupan. Dan itu bukan hanya untuk aku sendiri, tetapi untuk kata itu sendiri. Bahwa dengan aku menuliskan kata, kata itu menjadi bernyawa.

Sampai pada titik ini, aku selalu berujar bahwa aku memang tidak bermanfaat, karena aku hanya sekumpulan kata. Tetapi aku menjadi sangat berguna dan bermanfaat karena melalui kata yang sama aku menahbiskan keberadaanku. Aku adalah kata dan kata adalah aku. Sesungguhnya aku adalah kata, kata itu menjadi bernyawa dan hidup jika ia bertubuh dan menjadi daging.

Apakah makna daging dari kata? Jika aku menumpahkan kebenaran dalam setiap jejak kehidupanku. Jika setiap kata yang aku tuliskan sungguh menyentuh kehidupan manusia, menyapa keberadaan manusia, memberi arti pada kehidupan. Inilah inkarnasi kata. Seperti Tuhan sudah menjadi daging dan tinggal di antara kita, serupa itulah kata, yang menjadi bernyawa karena mampu memberi perubahan dalam kehidupan.

About these ads