
Banyak tanda di batas kata, tetapi selagi manusia masih hidup dan ada dalam dunia, kita hanya bisa berharap bahwa setiap kata yang terucap adalah doa.
Pada usia mana seorang manusia menutup mata. Mewujud tanda serupa apa seorang manusia akan meninggal dunia. Banyak kisah manusia tentang tanda-tanda sebelum hayat meninggalkan badan. Tetapi selagi manusia masih menjadi manusia yang hidup dan tinggal di dalam dunia, ia hanya bisa mengisahkan tentang tanda-tanda.
Seorang manusia hanya bisa berharap, bahwa sebelum ajal menjemputnya, ia bisa mengungkapkan rasa entah lewat kata yang menetas lewat selembar wasiat, pun atau lewat sebuah untaian kata-kata yang patah serupa gagap. Namun demikian yang selalu sering menjadi tanda adalah entah kata atau kata entah yang meletup-letup bagai doa.
Inilah yang disebut sebagai batas kata. Sebua fase dalam kehidupan manusia yang paling penting untuk dicatat dalam sejarah kehidupan. Karena di situasi perbatasan antara kehidupan dan ajal seorang manusia meringkas rentangan perjalanannya hanya dalam sebuah penggalan kata. Aku menyebutnya sebagai batas kata, mungkin engkau menyebutnya sebagai wasiat.
Di batas kata, seorang manusia bisa menumpahkan amarah karena kehidupannya penuh sesal. Jiwanya meronta karena tubuhnya menista. Tak sepatah-kata ampun pun terlontar dari dua beleh bibirnya yang lunglai. Yang selalu terucap adalah umpatan atas kehidupan, makian atas rentangan perjalanannya. ”Betapa malangnya aku. Mengapa aku harus hidup jika aku menjadi serupa sampah” Namun demikian hampir mustahil kita menemukan ada manusia serupa ini.
Pun pula ada yang memanjat berulang syukur. Melantunkan pujian dengan sambil melepas air mata, karena kehidupannya dialami dengan begitu indah. Jiwanya berbahagia, karena tubuhnya bagai rumah ibadah. Sepanjang hidupnya, ia suci bagai santa. Ia tersenyum kepada Sang Pemberi Kehidupan, sebagai ucapan syukur yang tak terkatakan. ”Betapa aku berbahagia, sekejap hidup yang nikmat” Namun demikian hampir mustahil kita menemukan ada manusia serupa itu.
Namun ada pula manusia yang menyadari sungguh akan keberadaannya di tengah kehidupan. Dan inilah yang sesungguhnya manusia yang selalu dan sering kita jumpai. Di batas kata ia melontarkan tanya tentang kelamnya jejak kehidupan, selanjutnya memohon pinta pengampunan kepada Sang Pemberi Kehidupan.
Tersayat-sayat menjelang ajal, manusia sadar dosa itu berucap kepada orang-orang tercintanya: ”Nantikan aku di tepi waktu, jika jingga perlahan melekat, dan burung kembali ke sarang, jemputlah aku dengan doa”
Kemudian ia memulai merenungkan tentang masa mudanya: ”Sekarang hari pagi, biarkan aku membedah siang, merangkai kalung cinta, dari yang lampau untuk esok, kusematkan dalam dadamu”
Pada usianya yang beranjak dewasa ”Air mataku jatuh, saat bayangmu berlalu, tentang kau yang mendahulu, tentang kecup di keningmu, dan rahim yang memberiku bayi”
Dan sampai ajal menjemputnya ”Nantikan aku di tepi waktu, jika jingga perlahan memekat, dan burung kembali ke sarang, jemputlah aku dengan doa”
Selalu kita, termasuk aku, menyebutnya manusia serupa itu adalah pendosa. Namun, sesungguhnya serupa itulah manusia. Sebab jika hendak meluput dari dosa, maka untuk apa Sang Pemberi Kehidupan memberikan kehidupan kepada kita. Pun pula, bukan berarti kita harus terjebak dalam dosa, karena itulah Sang Pemberi Kehidupan memberikan kita kehidupan, agar kita menyadari keterbatasan kemanusiaan kita, lantas dengan bebas mencintai Sang Pemberi Kehidupan.










































