Ada jejak-jejak kaki dan jeja-jejak tangan, juga ada peluh dan air mata pada setiap bakal kota. Tidak ada kota yang matang tanpa air mata. Tidak ada kota yang kokoh tanpa jejak kaki. Tidak ada kota yang kuat tanpa jejak tangan. Dan tidak ada kota yang penuh warna tanpa peluh dan keringat. Kita, dan lebih-lebih manusia kota mungkin lupa akan hal ini. Apalagi pada jejak kaki dan tangan, juga peluh dan air mata. Pertanyaan kita, dan seharusnya menjadi pertanyaan manusia kota adalah siapa yang membuat kota jadi serupa yang kita lihat?

Seperti yang kita lihat pada setiap sinar pagi yang menyelip, menyelinap di dinding-dinding gedung menjulang, lantas kita berujar ”pantulan sinar pagi membuat kota serupa lautan emas”. Seperti yang tampak pada jalan-jalan jantung kota dengan trotoar yang tertata dan pada taman-taman kota tempat anak-anak bermain. Pemandangan itu membuat manusia kota tertegun, dan orang-orang yang menyinggahinya terpana ”Di taman indah ini, aku antarkan anak dan istriku berakhir pekan” kata seorang manusia kota. Atau pada setiap senja yang tidak lagi mencekam, karena perlahan berganti kerlap-kerlip lampu jalan ”Kota kita tidak mati. Kota bukan kuburan. Dia laksana nadi yang terus berdenyut, selalu hidup”

Pandangilah sekali lagi dengan saksama. Sunyikan waktu bising kotamu. Lupakan sebentar detak detik jam kerjamu. Biarkan sunyi menyelimuti hatimu. Rasakan dengan rasa, simaklah dengan hati, akan ada jejak-jejak kaki di bawah lantai kotamu. Berjejal-jejal penuh lumpur dan luka. Jejak-jejak kaki tanpa kasut dengan pijakan sepuluh jari kaki yang kokoh. Sepuluh jari kaki itu adalah dua puluh lima ribu kali dua.

”Pandangi jalan-jalan kota

ada jejak-jejak kaki

menjadi aspal, diinjak

tetap diam, tanpa kata”

Amatilah pula dinding-dinding kota. Pada gedung-gedung yang menjulang. Pada setiap kaca yang terpantul cahaya pagi dan petang. Di sana ada sepuluh jari tangan menempel berjejal-jejal. Merekatkan cat pada tembok-tembol kota, menempelkan berjuta mimpi manusia kota. Tangan-tangan penuh lepuh ditumbuk palu paku. Dan jari-jari berdarah dibaret pecahan kaca. Sepuluh jari tangan itu adalah dua puluh lima ribu kali dua.

”Pandangi gedung-gedung kota

ada jejak-jejak tangan

menjadi bata, ditampar

diam, tanpa kata”

Apakah sudah ada yang mengetuk-ngetuk di balik dadamu, manusia kota? Lagi-lagi mungkin lupa, karena kebisingan jalan-jalan kota. Karena keselaluan mengejar-ngejar waktu kerja. Karena perang telunjuk dari ruang kelas sampai istana negara dan senayan. Jika kau selami jiwa kota dengan saksama, maka akan ditemukan air mata dan peluh darah.

”Pandangi simpang siur kota

ada peluh merangkak ke pinggir

tertatih-tatih, jadi sampah

juga diam, tanpa kata”

Lalu, tahukah kau, manusia kota, jejak-jejak kaki dan jejak-jejak tangan siapa, juga peluh dan air mata siapa? Semuanya adalah milik para buruh bangunan dan para pekerja jalan. Jika dari antara mereka ada yang menadahkan tangan pinta keadilan, dan menghampirimu tanpa mengenakan sandal jepit, wahai manusia kota….mencobalah untuk kembali ke balik sejarah ketika kota masih menjadi sebuah bakal.

About these ads