”Laut dan ikan itu bukan milik orang-orang kaya, tetapi milik orang-orang kecil, milik para janda, anak yatim piatu, dan mesjid” demikian kata Panglima Laot.

Siang hari, awal Februari 2010. Hari itu hari Minggu tanggal 7, tampak empat bocah mendayun sebuah sanpan kecil. Keempatnya menambatkan sampan kayu itu pada sebuah perahu motor, kemudian menaikinya. Di atas perahu motor sepanjang 12 meter itu keempatnya berunding. Entah. Yang pasti salah satu dari mereka lebih banyak bicara, telunjuknya menunjuk ke tepi perahu motor, ke dasar muara yang dalammnya kurang lebih dua setengah meter. Ketiga kawannya yang lain mengangguk. Tidak lama berunding, keempatnya menanggalkan pakaian, lalu mencemburkan diri ke dalam muara.

Beberapa detik kemudian, keempatnya menyeruak ke permukaan muara dengan napas terengah-engah. ”Dapat” teriak yang seorang . ”Tiga” yang seorang laigi. ”Dua” seorang yang lain. ”Selam lagi” pinta yang lain. Keempatnya kembali menghilang. Entah apa yang mereka cari di bawah lumpur muara gelap itu. Tetapi yang pasti mereka menemukan sesuatu. Mereka bergembira. Mereka berteriak-teriak. Tanpa lelah, mereka menyelam, menyelam lagi dan lagi

”Bang itu kerang bang, sekantong sepuluh ribu bang, mau beli?” pinta salah seoarang dari mereka yang memperkenalkan dirinya dengan nama Chairul. Tubuhnya kurus, kulitnya hitam. Usianya kurang lebih dua belas tahun. Saya menduga usia tiga kawannya yang lainnya pun sama. Namun saya tidak lekas menjawab tawaran Chairul. Mata saya lantas tertuju pada setumpukan kerang muara di atas sampan kayu itu. Dari balik dada saya mengagumi bocah-bocah nelayan ini. Luar biasa.

Chairul dan ketiga kawannya adalah segelintir bocah yang luput dari terjangan gelombang tsunami yang menghantam Nanggoroe Aceh Darusallam pada 26 Desember 2004. Keempat bocah ini adalah segelintir bocah yang terhempas dari Padang Seurahet Meulaboh Aceh Barat. ”Setelah tiga bulan tsunami, kami baru kembali lagi” kisah Chairul. ”Waktu itu kami masih kecil” tambah yang seorang.

Padang Seurahet adalah salah satu wilayah di Meulaboh Aceh Barat. Sebagian besar dari penduduk Padang Seurahet adalah para nelayan. Ketika gelombang tsunami menghantam Nanggroe Aceh Darusallam banyak dari antara mereka yang menjadi korban. Namun setelah kehidupan kembali normal, kebiasaan melaut kembali menjadi pekerjaan utama mereka.

”Setiap hari kami cari kerang bang, kami kumpul, terus jual” kisah salah seorang dari mereka. ”Ya, lumayan buat beli jajan” tambah Chairul disambut anggukan kawan-kawannya. ”Bang, beli ya bang” pinta Chairul lebih lanjut.

Melihat permintaan tulus dan semangat bocah-bocah telanjang yang ada di hadapan saya, juga menyaksikan keuletan para nelayan Padang Seurahet di bawah panasnya terik matahari, saya lantas teringat dengan wejangan Panglima Laot Padang Seurahet beberapa saat sebelum saya menjumpai bocah-bocah itu. ”Laut dan ikan itu bukan milik orang-orang kaya, tetapi milik orang-orang kecil, milik para janda, anak yatim piatu, dan mesjid” demikian kata Panglima Laot.

Tanpa berpikir panjang dan mengira untung rugi, saya lantas menarik selembar uang dua puluh ribu dan memberikan kepada empat bocah itu. Keempat bocah itu menerimanya dengan senang hati. Chairul memberikan sekantong kerang, tetapi saya menolaknya. Saya memintanya untuk membaginya kepada ketiga kawannya yang lain. Dia pun mengangguk.

”Terima kasih ya bang” mereka pun pergi, seusai mengemas pakaiannya masing-masing. Menaiki sampan kecil itu, melepaskan tambatan lalu menghilang pergi di balik barisan perahu motor. Esok hari, seusai jam sekolah, mereka pasti akan kembali lagi. Mengadu nasib dengan sekantong dua kantong kerang. Sebab kata Chairul ”itu lumayan buat jajan”