Saya meninggalkan Romba, setelah menamatkan Sekolah Dasar. Ketika itu tahun 1993. Sudah sejak itu hanya dua kali setahun saya kembali. Dan itu pun bertepatan dengan liburan sekolah, pun pula kalau benar-benar kangen keluarga. Jika tidak, saya enggan kembali ke Romba, saya lebih memilih berlibur bersama kawan-kawan sekolah ke kampung halaman mereka, entah di Mbay, Ende, Bajawa, atau Maumere. Alasannya sangat sederhana, kembali ke Romba pada masa itu menguras banyak energi karena lebih banyak menghabiskan waktu di perjalanan.
Karena alasan itu, bapak saya kesal “dulu, waktu kami masih sekolah guru di Ndao, kami mau jalan kaki dari Romba sampai Ende, kami tidak mengeluh. Kamu sekarang manja sekali”. Mendengar kalimat itu saya kadang dilematis. Saya seperti di hadapkan pada dua pilihan, berlibur di Romba atau tidak. Tapi lebih banyak saya memilih untuk berlibur di tempat kawan. Alasan saya masih cukup kuat.
Bayangkan, dari Mataloko, tempat saya menempuh pendidikan selama enam tahun, saya harus menyinggahi dua kota kecil, yang satu di sebelah barat yakni Mauponggo dan yang lain di timur, Nangaroro. Dan dari dua kota kecil ini saya harus menumpangi kapal motor diesel agar bisa sampai ke Romba. Itu pun kalau ada atau tidak terlambat atau tidak bergelombang. Jika berhadapan dengan masalah ini terpaksa harus bermalam sampai menunggu kapal motor berikut atau cuaca yang membaik. Belum lagi ditambah dengan kebiasaan buruk saya yang selalu mabuk laut. Oh No…bapak di romba pasti tambah berang.
Namun sekrang, Romba, dan secara lebih luas Maunori sudah tidak seperti dulu lagi. Akses komunikasi dan transportasi darat sudah lancar. Kapal motor hampir pasti tidak difungsikan lagi sebagai angkutan umum. Juga kebiasaan menulis surat, rupanya sudah ketinggalan zaman setelah hampir semua tangan menggenggam telepon. Semuanya berubah seiring waktu yang terus berubah.
Pola pikir pun berubah. Dan ini yang menggembirakan saya. Jika dulu, yang bisa bersekolah hanya mereka yang berpikiran maju dan berpandangan bahwa mewujudkan perubahan lewat pendidikan itu penting. Tentu saja didukung dengan kemampuan ekonomi yang baik. Sekarang hampir semua memiliki pola pikir itu dan berkemauan seperti itu pula.
Romba yang dulu ramai, dipenuhi anak-anak putus sekolah dan tidak bisa sekolah dan atau tidak mau sekolah, sekarang tampak sangat sepi. Deru gelombang pantai selatan terdengar menggema lebih dasyat dari bunyi lodspeaker beberapa tahun silam. Tidak banyak saya temukan pemuda seusia saya. Semua pergi entah ke mana. Jika bukan belajar/study juga karena tuntutan pekerjaan dan kehendak untuk memperbaiki kehidupan yang lebih layak.
Saya yakin dan optimis, saya dan semua yang mewakili usia saya, juga kakak dan adik saya yang sekarang sedang berada di perantauan, dalam bentuk dan cara yang berbeda, pada suatu saat nanti akan kembali ke Romba. Membangun Romba menjadi lebih baik. Dari Romba untuk Keo Tengah, dari Keo Tengah untuk Nage Keo. Dari Nagekeo untuk Nusa Tenggara Timur, dari Nusa Tenggara Timur untuk bangsa dan negara Indonesia tercinta.











































2 tanggapan kepada “Romba”
tanagekeo
Februari 4th, 2010 pada 21:47
Romba bagi saya bukan sekedar masa lalu untuk bernostalgia, tetapi sebuah masa depan penuh harapan. Saya mengharapkan semua anak Romba di perantuan untuk berjejaring membangun Romba.
Hampir setiap minggu saya berkomunikasi dengan orang-orang di Romba. Ketua Pembangunan Rumah Ibadah Watunggegha, Pak Paskalis So’o meminta saya menggalang dana dari anak-anak Romba seluruh Indonesia. Ayo kontak vitalisranggawea@yahoo.com
kris bheda
Februari 6th, 2010 pada 09:13
saya bergabung om