
Matinya Bantaqiah; Menguak Tragedi Beutong Ateuh, Oleh: Dyah Rahmany P Penerbit CORDOVA-ICCO-LSPP
Sepuluh tahun sudah sejak 23 Juli 1999, kasus pembantaian teungku Bantaqiah dan sejumlah santri di pasantren babul Ala Nurillah Beutung Ateuh Nagan Raya Nanggroe Aceh Darusallam belum juga tuntas. Munir, salah seorang pejuang HAM yang gencar membela dan memperjuangkan keadilan untuk kasus ini pun ‘dibantai’ secara keji oleh segelas arsenik. Pertanyaan kita bagimana bangsa ini mengakomodir rasa keadilan warganya? Bagaimana dan seperti apa pemerintah menuntaskan aneka kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia dari peristiwa Tanjung Periuk sampai kasus Teungku bantaqiah? Dari Kasus Teungku Bantaqiah sampai kasus Munir?
Menanggapi berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi di tanah air, termasuk kasus pembantaian Teungku Bantaqiah, Teungku Malikul Aziz, salah seorang putra Teungku Bantaqiah yang sekarang menjadi pemimpin pasantren Babul Ala Nurillah Beutung Ateuh menanggapinya dengan sangat bijak. Pada Selasa, 30 September 2009 dalam perjumpaannya dengan beliau, beliau mengatakan bahwa tidak ada dendam sedikitpun terhadap para pelaku, justru sebaliknya beliau mengatakan bahwa kejadian tersebut merupakan ajal dari Allah.
“Saya tidak marah dan tidak dendam kepada mereka yang melakukan pembantaian, karena semua itu, sebab dari mereka itu merupakan ajal daripada Allah, yang datang dari pada Allah. Tetapi saya sangat menyesal apabila mereka tidak mau kembali kepada jalan yang benar” kemudian Teungku Maliul melanjutkan “Ingatlah kejahatanmu yang pernah kamu lakukan terhadap orang lain dan lupakanlah kebaikanmu yang pernah kamu lakukan terhadap orang lain. Maka lupakanlah kejahatan orang lain yang pernah mereka lakukan terhadapmu. Maka bertaubatlah atas dosa-dosa yang telah kita kerjakan karena sesungguhnya Allah Maha Menerima taubat”
”Maka, janganlah kamu lakukan kejahatanmu kepada orang lain seperti yang pernah kamu lakukan terhadap kami. Maka menyesalilah semua perbuatanmu yang terdahulu. Maka mohon ampunlah kepada Allah, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Pemurah”
Menurut Teungku Malikul Aziz, sebesar apa pun kejahatan yang dilakukan terhadapnya, keluarganya dan daerahnya, dia pasti akan memaafkan. Karena menurutnya, Islam tidak pernah mengajarkan orang untuk melakukan tindakan kekerasan apalagi membalas dendam.
”Karena balas dendam tidak ada gunanya. Karena Allah dan Rasullnya mengajak umat-Nya untuk saling maaf memaafkan. Karena Allah tidak pernah menerima amalnya apabila di dalam hati kita tergelincir dengan dosa. Maka dari itu marilah kita sama-sama membersihkan hati dengan penuh keimanan, penuh keyakinan, penuh ketabahan. Hapuslah sifat-sifat jahat yang ada di hatimu. Salah satunya adalah mengadu domba, saling menfitnah, saling menjelek-jelekkan dan sifat takabur, iri hati dan lain sebagainya”
”Maka marilah sama-sama kita mohon kepada Allah, semoga Allah menjauhkan kita dari sifat-sifat tersebut karena Allah menciptakan langit dan bumi, menciptakan manusia untuk saling menghargai, untuk saling menyantuni dan janganlah kita berlaku sombong di atas bumi Allah ini”
”Janganlah kita menganggap diri kita yang paling hebat hingga kita melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diridhoi Allah kepada orang-orang kecil. Karena sesungguhnya martabat manusia di muka bumi ini sama. Yang berbeda adalah suku, bahasa dan warna kulitnya. Janganlah melakukan kekerasan terhadap orang lemah. Karena sesungguhnya yang lebih perkasa hanyalah Allah SWT, yang sanggup menciptakan langit dan bumi lalu. Dan hanya Dia-lah yang sanggup menghancurkannya”
”Maka dari itu marilah sama-sama kita saling menghargai selaku kita hamba Allah yang menjalankan ridhoi-Nya. Dan marilah, yang besar yakni pemerintah kita hormati dan yang kecil seperti kami kita sayangi”











































4 tanggapan kepada “Pemaafan Tulus Putra Teungku Bantaqiah”
mosadaki
Oktober 1st, 2009 pada 04:00
luar biasa, seorang perekam jejak yang lahir dari rahim Romba, kini mulai bermanfaat bagi semua yang paham akan tulisannya yang sangat inspiratif… wengi wado… ai ide emba nee buku nde, mae ghewo ngatu tii jao kalo negha cetak…
kris bheda
Oktober 2nd, 2009 pada 05:17
hahahaha…kae ari…buku masih dalam proses cetak. Tentang karya yang inspiratif jao kira kae ari juga. Tetapi lebih-lebih kita salut tii om kita dalam http://tanagekeo.wordpress.com justru lebih inspiratif dan menggugah
zachloel
November 23rd, 2009 pada 20:21
boleh mnta izin di post di blog saya mas…
saya sngat tertarik dengan tulisan anda…
kris bheda
Desember 5th, 2009 pada 11:51
bung zachloel, terima kasih atas komentarnya. Bagi saya tidak menjadi masalah jika tulisan dan naskah saya diposting di blog anda, sejauh tidak bertentangan dengan ‘etika jurnalistik’