beutung ateuh“Di sini tidak ada SMA, yang ada hanya SD dan SMP, itupun semuanya guru honor hanya kepala sekolah yang pegawai negeri. Kepala sekolah yang sama untuk SD dan SMP dan guru yang sama untuk SD dan SMP juga”  Demikian kata Teungku Basyarullah, salah seorang santri di dayah Babul Mukarammah Beutung Ateuh. Pernyataan yang sama dibenarkan Mohammad Daud, siswa SMP di Beutung Ateuh yang juga ketua OSIS di SMP tersebut. Menurutnya guru-guru yang mengajar mereka adalah guru honorer. Daud menambahkan “Kami tidak ada buku-buku, tidak ada perpustakaan di sekolah”.

 Di Tanjungan desa Blang Meurandeh persis bersebelahan dengan pusat komunitas dan pertanian organik terpadu pasantren Babul Mukarammah terdapat sebuah gedung SD yang didirikan oleh UNICEF, tetapi belum difungsikan. Kondisinya tidak terawat, semak liar pun tumbuh setinggi lutut, hewan ternak keluar masuk gerbang. “Belum serah terima” kata Teungku Basyarullah. “Semua sudah lengkap, ada kursi meja papan dan kapur tulis, dengar-dengar rencananya tahun 2010 baru mulai difungsikan” tambah Teungku Burhan, salah seorang santri yang lain.

 Berbicara tentang pendidikan di Beutung Ateuh saya jadi teringat dengan tiga kisah yang saya rekam dalam ‘Bocah-Bocah Alam’. Di mana ketiga kisah itu melukiskan tentang kedekatan antara alam dan manusia melalui anak-anak yang bermain sepeda, melalui kisah ketiga bocah yang mencari anak-anak ikan dan lima bocah mandi riang di sungai.

 Ketiga kisah di atas sudah cukup mewakili bagaimana seharusnya membangun pendidikan alternatif di Beutung Ateuh. Menurut hemat saya, di Beutung Ateuh pendidikan formal saja tidak cukup. Seharusnya diperlukan pula model pendidikan yang berbasis pada kebutuhan dari bawah yakni anak-anak di empat desa di Beutung Ateuh yang dikolaborasikan/dikawinkan dengan keinginan dan kemauan dari atas/pemerintah.

 Pendidikan yang berdasarkan kemauan atau keinginan pemerintah sudah barangtentu dilaksanakan berdasarkan kurikulum baku yang sudah dikonsepkan dari meja kerja pemerintah pusat. Sistem seperti ini tentu saja tidak bisa ‘dibongkarpasang’ lagi. Kalau pun ada potensi dan kearifan lokal yang coba diakomodir, itu pun belum tentu maksimal menyapa kebutuhan kelokalan anak-anak empat desa di Beutung Ateuh.

 Sementara itu model pendidikan yang saya tawarkan adalah model pendidikan alternatif yang berdasarkan pada kebutuhan komunitas Beutung Ateuh. Pendidikan alternatif yang didasarkan pada kebutuhan komunitas beroirientasi bukan hanya pada menjawab kemauan komunitas akan pentingnya perubahan secara akademis, tetapi juga mengakomodir kekuatan-kekuatan lokal, kearifan-kearifan lokal sebagai media pendidikan alternatif.

 Pendidikan alternatif yang saya maksud bukan mau meniadakan pendidikan formal yang sudah ada, tetapi sebaliknya justru melengkapi kekurangan atau yang tidak ada di model pendidikan formal. Kekurangan yang paling besar untuk pendidikan formal di Beutung Ateuh adalah menjadikan alam sebagai guru dan lingkungan sekitarnya sebagai buku ajar. Ruang sekolah bagi pendidikan anak-anak adalah sungai, sawah dan ladang juga jalanan tempat mereka bermain. Guru mereka pun alam itu sendiri. Kita hanya memfasilitasi menjumpakan apa kata alam dan bagaimana alam mau berkata-kata. Kreatifitas dan terobosan inovatif menjadi tantangan juga kemampuan yang mesti harus selalu di asah. 

About these ads