Yesus Putra Manusia adalah karya Gibran yang semua kisahnya berisikan tentang kesaksian mengenai Yesus. Sebagian besar adalah kesaksian langsung yang dialami para tokoh dalam perjumpaan mereka dengan Yesus, sementara sebagian kecil yang lainnya adalah perjumpaan tidak langsung. Perjumpaan tidak langsung yang pertama dilukiskan Gibran tentang Sarkis yang hanya berjumpa Yesus dalam mimpi. Sedang yang kedua setelah sembilan belas abad kemudian. Kesaksian yang terakhir ini merupakan refleksi Gibran sendiri atas pribadi Yesus.
Semua kesaksian yang dilukiskan Gibran menampilkan Yesus sebagai seorang manusia yang khas dan unik. Disebut demikian karena para tokoh yang memberi kesaksian menggambarkan Yesus dengan caranya sendiri-sendiri. Ada yang memberi kesaksian hanya tentang masa kecil Yesus. Sebagian yang lain mengisahkan tentang masa remaja atau masa muda Yesus. Beberapa orang hanya bertemu ketika Yesus sedang mengajar, melakukan mukjizat, ada juga yang bertemu dengan Yesus ketika sudah di hadapkan ke muka Pilatus. Bahkan ada yang setelah sembilan belas abad kemudian. Dari empat puluh delapan kesaksian tersebut terdapat sebagian orang yang memuji dan mengagumi Yesus tidak hanya secara fisik tetapi juga buah pikiran dan kepribadian-Nya. Yesus lantas disebut sebagai seorang pemuda tampan dan gagah. Ada yang menyebut-Nya sebagai raja, guru, filsuf, tabib, dan imam. Namun ada juga yang menilai Yesus secara negatif sebagai seorang yang angkuh dan bermulut besar.
Yesus Putra Manusia menggambarkan tentang Yesus yang memiliki riwayat hidup-Nya sendiri. Dalam kehidupan-Nya, Ia berjumpa banyak hal di banyak tempat dengan banyak orang. Yesus dilukiskan Gibran dibentuk oleh pengalaman kehidupan kongkret. Yesus lahir layaknya seorang anak manusia, tumbuh dan berkembang sebagaimana seorang manusia itu tumbuh dan berkembang, lantas mati sebagaimana kehidupan itu harus berakhir dengan kematian.
Yesus Putra Manusia, yang dilukiskan Gibran dalam empat puluh delapan kisah kesaksian sebenarnya mau mengatakan satu hal yakni Yesus adalah manusia yang sama seperti manusia lainnya. Melalui Yesus Putra Manusia, Gibran mau menegaskan tentang ke-manusia-an Allah yang secara utuh dan penuh terjadi dalam Yesus. Yesus yang hadir dan pernah ada dalam penggalan sejarah kehidupan manusia, itulah yang mau dikatakan Gibran dalam Yesus Putra Manusia-nya. Kendatipun dalam beberapa kisah ada kesaksian yang menyebutkan Yesus sebagai pembohong, orang yang bermulut besar, tukang sihir dan sombong, itu merupakan konsekuensi logis dari peran Yesus sebagai seorang manusia dalam dunia. Gibran dengan sengaja mengangkat kesaksian-kesaksian negatif tentang Yesus untuk menunjukkan bahwa kehadiran Yesus dalam dunia tidak selamanya ditanggapi secara positip oleh manusia, bahwa Yesus dengan kekhasan dan keunikan-Nya sebagai manusia tidak luput dari perhatian dan penilaian manusia.
Namun perlu dicatat bahwa perhatian dan penilaian tersebut tidak berangkat dari Yesus yang pada diri-Nya sendiri rentan berbuat salah atau melakukan dosa. Dalam Yesus Putra Manusia tidak satu kalimat pun ditemukan bahwa Yesus melakukan dosa. Penulis mengangkat salah satu contoh untuk menunjukkan tentang hal tersebut. Uriah, laki-laki tua di Nazaret mengatakan Yesus seorang yang angkuh karena tidak membalas salam anak gadisnya.
“Tidak lama sesudah itu, anak gadisku pergi bersama kawan-kawan ke kebun menuai buah anggur. Ia menyapa Yesus, tetapi Ia tidak menjawab. Yesus hanya berbicara kepada seluruh rombongan penuai itu, seolah-olah anakku tidak ada.”
Ada satu makna teologis yang tersembunyi yang mau dikatakan Gibran dalam kutipan di atas. Gibran justru mau mengatakan tentang kerendahan hati seorang manusia Yesus. Yesus datang ke dalam dunia bukan hanya untuk meyelamatkan satu orang manusia saja, tetapi untuk semua orang. Yesus tidak datang hanya untuk menyapa ‘anak gadis Uriah’ tetapi untuk ‘seluruh rombongan penuai itu’ semua orang yang datang ke kebun anggur.
Jadi jelas bahwa berbagai kesaksian negatif dalam Yesus Putra Manusia hanya merupakan reaksi penolakan atas kehadiran Yesus. Gibran yakin bahwa Yesus adalah seorang manusia yang sempurna. Kesempurnaan itulah yang menjadi tanda bahwa Allah tampak dalam diri Yesus. Namun dalam Yesus Putra Manusia tidak banyak kesaksian yang diangkat Gibran untuk melukiskan tentang keilahian Yesus. Titik tolak refleksi Gibran adalah tentang Yesus sebagai seorang manusia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Yesus Putra Manusia merupakan penegasan Gibran atas ke-manusia-an Allah, bahwa dalam dan melalui Yesus, Allah sungguh-sungguh menjadi manusia, kecuali dalam hal dosa.










































