Hari-hari di awal September dua ribu sembilan. Saya selalu menyaksikan peristiwa yang tidak biasa di ujung desa Blang Meurandeh Beutung Ateuh Nagan Raya Nanggroe Aceh Darusallam. Sebuah tempat yang indah yang berada di tepi jajaran bukit barisan. Sebuah lembah yang teduh dan sejuk, yang diapit lebat hutan Ulu Masen. Sebuah tempat yang masih jauh dari jangkauan signal handphone dan akses transportasi yang memadai. Tepatnya sebuah tempat yang masih alamiah dan belum banyak disentuh roda pembangunan.
Sore hari itu, seperti sore-sore hari sebelumnya, beberapa anak laki-laki dan perempuan berusia antara delapan sampai sepuluh tahun, melingkari lubang galian delapan kali delapan meter dengan kedalaman sekitar sepuluh meter. Mereka mengamati lubang itu setiap sore tanpa lelah. Sesekali mereka bercerita entah tentang apa di bibir lubang itu sambil tertawa kecil. Kemudian berhamburan ke bibir sungai untuk menceburkan diri.
Di sana pun sambil membenamkan di balik bongkah-bongkah batu licin berair sejuk, mereka masih melanjutkan cerita yang juga entah tentang apa. Mereka menunjukan jari ke masing-masing sisi sungai dari lubang satu ke lubang lain di seberang. Kemudian mereka menunjuk ke arah seutas tali kawat yang terentang di atas sungai, tempat dimana mereka lalui untuk seberang menyeberangi.
Di sore kelima, saya menggabungkan diri, mengikuti barisan setengah melingkar. Saya berdiri di ujung paling kiri, kemudian memperhatikan dengan saksama wajah-wajah mereka. Saya melupakan lebar dan dalamnya lubang galian di hadapan saya. Saya tidak memperhatikan lubang besar itu, tetapi memperhatikan ekspresi dan mimik mereka. Juga sesekali mendengarkan kata-kata apa yang terlontar dari mulut mereka.
Sore hari itu, wajah-wajah mereka tampak cerah, seperti sedang membayangkan tentang sesuatu dengan lubang itu di kemudian hari. Seperti ada sesuatu yang menggembirakan dari lubang galian itu. Seperti ada harapan lama yang akan segera terwujud. Seperti mimpi yang akan menjadi kenyataan. Seperti sebuah kabar gembira. Mereka seperti menjadi generasi paling beruntung ketika melepaskan pandangan mereka ke arah lubang itu.
Sulit dibayangkan apa yang ada dalam benak mereka tentang lubang galian itu. Bukankah ini hanya sebuah lubang kosong tampa isi? Saya bertanya dalam hati. Bukankah lubang itu telah merusak sedikit lahan tanaman di sekitarnya? Bukankah gundukan tanah yang terlempar ke bibir sungai telah membuat wajah air jadi kelabu? Tanya-tanya itu beruntun menyembul dalam benak saya. Tetapi, rupa-rupnay ada sesuatu yang lebih istimewa dengan lubang galian itu. Kata saya dalam hati.
Saya memperhatikan lagi wajah-wajah ceriah mereka. Wajah yang seorang menukik jauh ke bawah lubang, seperti menembus ke dasar tanah. Entah apa yang dibayangkannya. Kemudian perlahan matanya melambung ke langit lepas. Seperti berharap pada sesuatu yang ada di entah. Wajah seorang yang lain melihat ke arah kakinya dipijak. Seperti sedang memperhatikan sepasang sandal yang dikenakannya. Kemudian mengangkat sebelah kaki dan menampakkan tapaknya. Tampak membekas di telapak sendalnya sebuah garis melintang, seperti terlalu sering dipijak.
Wajah seorang yang lain melempar jauh ke seberang sungai. Betapa terperanjatnya saya, ternyata, di sana, juga berbaris-baris beberapa anak melingkari sebuah lubang yang sama. Sambil melepas tawa ia melambaikan tangannya. Dari seberang membalas lambaian dengan teriakan-teriakan.
Teriakan pun disahut. Sahut menyahut teriakan pun membuyarkan pandangan mereka ke arah lubang. Mereka melompat-lompat seperti kawan-kawan mereka yang di seberang, sambil melepas tawa memecah sunyi sore hari itu. Kemudian mereka kembali berhamburan ke sungai. Mereka melanjutkan cerita, melanjutkan tertawa, melanjutkan tingkah gembira.
Kepada seorang, yang setia memperhatikan tapak sandalnya yang hampir saja patah, karena keselaluan menjejak di pijakan yang sama, saya bertanya ”Apa yang kalian perhatikan selama berhari-hari dengan lubang ini?” Dia tidak segera menjawab. Matanya tetap melekat memandang tapak sendalnya, kemudian memandang saya secara perlahan dari ujung kaki hingga kepala. Dari bibir manisnya menyembul senyum tiba-tiba. Saya membalas senyumanya sambil sekali lagi melepas tanya ”Ade, apa yang ade dan kawan-kawan perhatikan selama berhari-hari dengan lubang ini?”
”Di sini akan dibuat jembatan. Dari sini ke sana (jarinya menunjuk ke seberang), jadi kami senang. Kami tidak lagi menyeberang lewat tali kawat ”. Ia menutup senyumnya kemudian menyusul kawan-kawannya yang lain. Mata saya mengatarnya sampai ke bibir sungai. Keheranan dan berjejal pertanyaan yang selama ini mengaduk-aduk ruang kepala saya terjawab sudah. ”Jembatan Layang” itu saja.
Mengapa mereka begitu bergembira dengan hanya sebuah jembatan layang? Jawabannya ada di telapak sandal sang gadis kecil di atas. Mereka begitu bergembira karena mereka adalah generasi yang beruntung. Mereka tidak akan lagi mengeluhkan sandal jepit yang patah karena keselaluan menyeberang di atas seutas kawat penyeberang. Orang tua mereka tidak lagi mengeluhkan lelah pundak ketika harus memikul beban berat dan menyeberang melewati seutas kawat yang sama.
Selebihnya, jembatan layang tidak sekedar tempat menyeberang. Tetapi juga menyiratkan tentang perubahan. Kegembiraan yang terpancar dari wajah-wajah mereka menyiratkan tentang Beutung Ateuh yang berbeda. Tentang Beutung Ateuh yang kian mengenal ’dunia seberang’. Mereka pantas bersyukur untuk itu, karena mereka adalah generasi yang beruntung.









































