kris bheda baku peduiGerimis jatuh perlahan. Malam sebentar lagi bangun. Di ujung perempatan Condong Catur Yogyakarta, dua gadis berkulit sawo matang, menengok ke kiri dan kanan sesekali melempar pandang ke seberang jalan. Namun arus kendaraan sepertinya tidak memberi mereka jalan. Keduanya was-was, jantung mereka berdebar. Plastik hitam di tangan kanan yang berisi pisang dan umbi goreng diremas kuat-kuat, sementara tangan yang kiri menggandeng sahabatnya erat-erat. Di seberang jalan, di depan rumah beranyam bambu delapan kawan menunggu dengan cemas. Dada mereka pun berdebar. Menunggu dua sahabat yang belum menyeberang.

Sepuluh menit berselang, tepat pukul setengah tujuh dua gadis yang ditunggu muncul di hadapan mereka. “Aduh… tobat begini lagi” kata yang satu dari dua. Kawan-kawan mereka menyambut legah sambil melangkahkan kaki meninggalkan jalan yang masih saja ramai. “Kami mencoba untuk terus beradaptasi dengan situasi yang baru ini” kata Hermelinda salah satu dari sepuluh kawan, ketika sudah berukumpul di bawah rumah beratap genteng. ”Namanya juga kita masih baru, jadi biasa kalau masih takut, canggung dan minder” tambah Andreas Nahak, salah seorang teman yang lain.

Baru sebulan, sepuluh kawan itu di Yogyakarta. Di bawah rumah beratap genteng tanpa plafon mereka menetap. Dalam lima kamar berukuran tiga kali empat meter, di atas tempat tidur kayu tanpa kelambu mereka tidur. ”Tidak apa-apa, begini saja kami sudah bersyukur” kata Nahak lebih lanjut. ”Yang sekarang kami pikirkan adalah belajar yang giat, karena kami dipercayakan untuk membangun Laktutus” Timpal Lukas, seorang kawan yang lain, yang juga menjadi ketua asrama rumah beranyam bambu itu.

Malam sudah bangun. Gerimis masih saja jatuh. Di bawah terang lampu neon kesepuluh kawan itu bertukar tutur sambil menghabiskan pisang dan umbi goreng. Mengelilingi kotak papan satu kali satu meter, mereka bentangkan aneka cerita dan kisah yang terbentang antara Laktutus dan Yogyakarta.  Sesekali tampak sendu, ketika harus melontar kata tentang kampung halaman, tentang ke sekolah tanpa kasut dan berjalan kaki, tentang orang tua yang meladang, tentang adik yang masih kecil dan jalan yang belum beraspal. Namun, sesekali pula mereka cerah benderang, ketika membayangi masa depan, tentang makanan jawa yang katanya enak, tentang buku-buku yang akan mereka baca, tentang sepeda yang akan mereka kayuh, tentang bangku kuliah yang akan mereka tempuh dan sebuah masa depan Laktutus yang berubah.

Menutup cerita sebelum beranjak pergi kamar masing-masing. Nahak, yang mengambil program studi matematika mengisahkan lagi tentang alasan mengapa mengikuti program beasiswa Baku Peduli. Katanya “Salah satu kendala yang memilukan daerah kami adalah kurangnya tenaga pengajar dari daerah kami sendiri yang bisa mengisi kekosongan di sekolah-sekolah dari SD sampai SLTP yang tersebar di daerah kami sehingga menyebabkan seorang tanaga pengajar harus merangkap 2 sampai 3 mata pelajaran walaupun bukan keahliannya.”

Pemuda sawo matang berusia 21 tahun itu melanjutkan ”Namun bukan berarti tidak ada pengajar dari luar daerah. Tenaga tersebut sudah disiapkan namun karena daerah kami yang tertinggal dari segi pembangunan dan teknologi membuat mereka tidak betah dan tidak jarang mereka dipindahtugaskan dari daerah kami. Disinilah kami dituntut untuk mengisi kekosongan yang ada walaupun dengan segala keterbatasan. Karena kami yakin pendidikan merupakan faktor penting untuk perubahan dan perbaikan sumber daya manusia”

”selamat malam” serempak mereka mungcap salam. Dari pojok sebelah kiri, persis di pintu samping tanpa gembok, aku bersama lima sahabat yang lain Pater Saverinus Adir, OFM, Cyprianus Jehan Paju Dale, Tamara Soukotta, Riza Lopes dan Tommy Saleh memperhatikan mereka satu persatu masuk ke kamar masing-masing dengan wajah cerah. Di atas spon sepuluh senti mereka rebahkan diri, merajut mimpi-mimpi tentang Laktutus yang selalu memanggil dari balik dada mereka, baik di waktu siang yang berisik maupun malam yang sunyi.

Dari balik dada yang paling dalam aku, dan mungkin juga sahabat-sahabatku akan berharap ”Mereka terus bermimpi, dan itu tak pernah pupus karena Laktutus menanti, bukan demi mereka sendiri tetapi demi masa depan negeri ini”. Malam bangkit sudah beranjak tinggi. Arlojiku menunjuk pukul setengah sepuluh malam. Gerimis tipis masih jatuh. Sebelum kami pergi dari tepi jalan yang masih saja bising, dari balik celah-celah dinding beranyam bambu terpendar-pendar cahaya lampu pijar. Aku tersenyum sendiri sambil memijakkan duduk di kursi taksi menuju penginapan. Pun pula untuk bermimpi.

About these ads