kris bheda“Sepotong karangan ini melakukan perasaan dan pikiranku, anggapan dan pemandanganku” kemudian Hamid mengambil lem dan ditempelkan selembar kertas kwarto itu di buku hariannya, kemudian lembaran-lembaran yang menjepit drama itu dilemnya pula, sehingga hasil ciptaan itu tersimpan dalam sampul lembaran buku harian. Setelah itu ia pun tidur. Nyenyak. Karena, sebelumnya ia telah berbisik pada hatinya sendiri “Biarlah drama ini kukerjakan dengan tubuh dan jiwaku sendiri”

Inilah akhir cerita pendek (cerpen) Pramoedya Ananta Toer dalam ‘Keguguran Sang Darmawan”, yang ditulisnya pada tahun 1953 di Amsterdam Belanda. Pramoedya, melalui tokoh Hamid mau memajukan harapan akan bangkitnya drama dalam lapangan seni tanah air. Namun sayang naskah drama yang ditulis Hamid sering dicemooh dan diejek oleh kawan-kawannya sendiri. Seorang kawan Hamid mengatakan Hamid tidak waras, sementara yang lain menertawakannya. Kata Nabi Isa dalam Kitabnya, seorang ’nabi’ tidak dihargai di tempat asalnya sendiri, demikian juga drama tentang Indonesia yang diabaikan anak-anak pertiwi.

Membaca kisah Pramoedya di atas saya jadi teringat pada sebuah peristiwa. Malam itu, 14 Agustus 2008, kelompok teater tari kontemporer SHE LAGEE, yang dibawakan oleh 42 seniman tua dan muda dari 21 desa se-Aceh Barat tampil di atas pentas mengisi malam renungan perdamaian memperingati 3 tahun penandatanganan MoU Helsinki di Aula Akper Suak Ribee Meulaboh. Seusai pentas sebuah pidato menutup cerita, dengan sepenggal kalimat yang terdengar menyayat ‘Teater Tari Kontemporer SHE LAGEE bukan produk Budaya Aceh’.

Saya terperanjat. Dan saya kira sahabat-sahabat saya yang telah mendukung kegiatan tersebut serta para seniman yang tampil pun terperanjat. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah SHE LAGEE bukan produk budaya Aceh? Apakah Rapai Cebrek dari Kawai XVI yang sudah berusia ratusan tahun bukan produk budaya Aceh? Apakah serune kalae, rapai, tarian debus, ranup lampuan, rapai geleng, rapai dua belas, dan syair sholawat bukan produk budaya aceh?

Pertanyaan itu terus terngiang dalam ingatan nubari kecil saya dan semakin sulit untuk diterima dengan akal sehat ketika sebagian orang menambahkan bahwa SHE LAGEE merusak moral budaya Aceh karena mencampurkan laki-laki dan perempuan dalam satu pentas. Kendati terus dihantam penolakan dan pengabaian, bahkan ejekan dan olokan, saya merasa sangat yakin bahwa SHE LAGEE tidak seperti yang sudah sedang ditafsirkan.

Ketika kembali membaca Parmoedya, saya jadi semakin yakin bahwa pembaca dan penonton memiliki kekuasaan penuh untuk menafsirkan. Namun, catatan penting yang perlu disampaikan di sini adalah penafsiran harus kontekstual. Saya sependapat dengan tokoh Hamid dalam cerpen Paramoedya yang mengatakan “Biarlah drama ini kukerjakan dengan tubuh dan jiwaku sendiri” sebagai tekad ketika drama yang ditulisnya kalah bersaing dengan gempuran dominasi film-film bioskop. Hamid tidak patah hati. Hamid tetap mempertahankan tradisi drama tanah air dari kepunahan.

SHE LAGEE pun demikian, ia tidak mati, karena ia adalah sebuah karya seni penuh makna yang telah menciptakan kekagetan peristiwa budaya. Bahwa kebudayaan itu berubah, kendati tidak harus tercerabut dari akarnya. Dan mereka yang masih terkekang dalam sangkar penafsiran yang timpang karena hanya melihat bentuk ketimbang isi akan mengatakan ”ini bukan budaya kita” sementara apa yang disebutkan sebagai kebudayaan sulit baginya untuk didefinisikan.

About these ads