Mis Lu Naning PranotoSuatu ketika, dalam kursus singkat cara penulisan kreatif yang saya ikuti, novelis-cerpenis Naning Pranoto pernah bilang ‘cobalah untuk menulis dalam kepala’. Tawaran ini bukan tanpa alasan, karena menurut beliau, di tempat tunggu, di waktu menunggu selain di isi dengan membaca, perempuan kelahiran Yogyakarta 6 Desember 1975 ini mengisi jelang itu dengan menulis. Menulis dalam kepala alias mapping mind.

Jadi jika suatu saat kita bertemu dengan penulis Creative Writing (Gramedia,2004) ini sedang ‘bengong’ di sebuah ruang tunggu, berarti beliau tidak sedang ‘kebengongan’ tetapi sedang menuliskan sesuatu di dalam kepalanya.

Mumi Beraroma Minyak Wangi (Tera-Magelang, 2001) Musim Semi Lupa di Shizi (PT Primamedia Pustaka, 2003) Miss Lu (Grasindo, 2003) Sebilah Pisau dari Tokyo (Grasindo 2003) adalah buah-buah mapping mind-nya pengagum karya-karya Jalaludin Rumi ini.

“Menulis dalam kepala terasa sangat indah dan nikmat” demikian kata Bu Naning suatu ketika. ‘Kenikmatan’ inilah yang akhirnya menggugah ruang sadar saya untuk mencoba berkreasi…yah benar-benar mencoba untuk berkreasi.

Liburan panjang tahun 2003 saya memutuskan untuk mudik (menuju udik/kampung) ke Flores. Suatu hari saya mengunjungi danau tiga warna Kelimutu. Di tepi danau sambil menunggu matahari terbit saya mencoba mengelamunkan tentang keindahan, keelokan danau tiga warna di bawah kawah itu.

Pendaran sinar berwarna yang menghiasi dinding-dinding kawah dan bisingan angin yang menampar daun cemara terasa sangat menakjubkan. Sambil menanti kabut yang kian mendekat menutupi liang-liang kawah, seakan-akan kita menyaksikan keajaiban Tuhan. Apatah ini? Ilusi? Tanya saya dalam hati. Inilah nusantara, saya menjawabnya sendiri. Nusantara yang berwarna, beraneka ternyata begitu indah. Nusantara ini sangat indah seindah lukisan puisi Sungai-nya Armin Pane. Keindahan yang harus dijaga dan tidak harus diobral dengan investasi asing.

Inilah ‘Aku’ demikian kata Chairil Anwar. Dengan keelokan dan kekuatannya sendiri, Nusantara bisa hidup untuk seribu tahun lagi. Jadi, tidak perlu kita mengemis ‘nasib’ dari negara asing, sementara keelokan nusantara bisa di manfaatkan.

Mulailah saya melamunkan tentang tokoh-tokoh, setting, alur cerita, dialog-dialog kunci, tentang pembukaan dan juga tentang ending-nya. Semuanya terekam dalam kepala.

Sekembali ke Jakarta, kebetulan dalam rangka Dies Natalis Kampus ada perlombaan karya tulis dengan tema menyoal kebangsaan – keindonesiaan. Sontak rekaman itu ditumpahkan dengan lancar di depan layar monitor komputer dan jadilah sebuah cerpen berjudul ‘Kubangkitkan Pane dan Anwar.’ Ketika diumumkan pada malam puncak saya begitu merasa bahagia karena mendapat urutan dua. Hadiahnya waktu itu cukup lumayan untuk seorang anak kos yang sering nunggak bayar kos: uang lima ratus ribu dan sebuah buku Cerita dari Jakarta-nya Pramoedya Ananta Toer…ini berkah sebuah lamunan, lagi-lagi kata saya dalam hati.

Sudah sejak itu, ‘nafsu’ menulis mulai diasah. Kendatipun di sana-sini tampak belepotan hasil tulisannya, saya tetap mau menulis apa saja, sejauh yang saya tahu, dan sejauh yang saya mau. Semuanya bermula karena sebuah lamunan, yang dalam istilah penulisan kreatif ala Naning Pranoto disebut sebagai mapping mind.

Catatan: tulisan yang di atas pernah dimuat di http://wikimu.com

About these ads