“Ya Allah…Ya Allah” Hatiku bergetar mendengar sepotong doa lelaki berkopiah di sampingku yang mengaku bernama Teungku Riswan. Usianya sudah uzur, kurang lebih enam puluh. Tubuhnya kurus, tungkainya pun sudah gontai. Tapi dari balik cekung matanya, Teungku Riswan masih tajam menatap masa depan yang ada di entah. “Astaqfirulahalazim” kepalanya tergoncang ke kiri kanan, menampar-nampar sandaran bangku pesawat.
Lagi-lagi melepas doa “Ya Allah…Ya Allah”. Doanya melesat ke udara, menerobos masuk rimba awan jadi serupa istiqfar, serupa pertobatan, pujian dan juga syukur. Di atas rimba awan, di ketinggian tiga puluh enam ribu kaki, aku, Teungku Riswan dan juga para penumpang lain yang setengah jam berlalu lepas landas seperti sama-sama berucap “Ke dalam tangan-Mu kupasrahkan diriku”
Hatiku tambah ciut, ketika seorang balita yang duduk jauh di depanku melengking menjerit. Di atas ketinggian enam puluh tiga ribu kaki, bayi itu melengking tinggi. Ditambah suara peringatan “Para penumpang diminta untuk tetap mengenakan sabuk pengaman” hatiku menjadi bergejolak. Di luar jendela, gerimis menampar-nampar dinding pesawat. Mata tidak bisa manatap cerah alam, pekat awan menghalanginya.
Dadaku seperti mau meledak ketika Teungku Riswan buka suara “Berita pesawat jatuh sudah sering saya dengar, jangan-jangan kita sedang membuat berita yang sama” Aku berteriak-teriak tanpa kata. Senyap menyesaki dadaku. Di balik dadaku yang paling dalam aku mengutuk keras kata-kata Teungku Riswan. Tapi di atas riba awan yang sedang bergejolak, peristiwa seperti itu bisa benar terjadi.
Lamunku melejit lepas ke peristiwa 1 Juni 2009 – Air France Penerbangan 447, jatuh di laut di kedalaman 7.000 meter di Samudera Atlantik. Menewaskan seluruh penumpang dan awaknya yang berjumlah 228 orang. 30 Juni 2009- Yemenia Air Penerbangan IY 626 jatuh di laut di kedalaman 500 meter di Samudera Hindia. Mengangkut banyak penumpang dan awaknya yang berjumlah 153 orang. Hanya 1 orang gadis ditemukan selamat.
Lamunku diseret lagi ke negeri sendiri, ke Magetan Jawa Timur. Pada 20 Mei 2009 pesawat angkut jenis C-130 Hercules Alpha 1325 jatuh dan terbakar di desa Geplak Kecamatan karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Korban jiwa mencapai 101 orang. Sebanyak 99 orang adalah awak pesawat, dua warga sipil. Pada 8 Juni 2009 helikopter jenis Bolkow-105 buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) tahun 1988 milik TNI AD mengangkut lima perwira jatuh dalam penerbangan pulang dari lokasi latihan Kopassus di Pagelaran Cianjur menuju Markas Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus) di Batujajar, Bandung. Korban tewas mencapai tiga orang dan dua lainnya luka.
Aku menjadi semakin ciut, kecut, lecut. ”Ya Allah…Ya Allah” Teungku Riswan terus memanjat doa. Aku turut larut di dalamnya, tanpa kata hanya diam. Hendak aku mati saja ketika itu. Aku benar-benar tidak kuat menahan takut. Dadaku sesak oleh senyap. ”Ya Allah…Ya Allah” doa itu terus berulang, Teungku Riswan benar-benar menjadi semakin pasrah. Lengkingan tangisan balita belum juga meredup tenang. ”Ya Tuhan, terserah Engkau saja…hari ini 15 Juli 2009 ke dalam tangan-Mu kupasrahkan diriku” antara marah dan pasrah, sepatah kata itu melejit ke langit pekat, menembus sampai jauh melampaui enam puluh tiga ribu kaki. Dada terasa hampa. Tubuhku jadi semakin kaku serupa mayat. Mataku terlempar keluar jendela ”Rimba awan serupa kalvari, di sini aku disalibkan”
Sumber gambar: 2.bp.blogspot.com/…/s400/cloud_cross_big.jpg, unik77.blogspot.com/2009_04_19_archive.html










































1 tanggapan kepada “Di Atas Rimba Awan”
ari kae
Juli 16th, 2009 pada 10:21
Saya mohon bimbingan dari para senior…………