Ini adalah kisah-kisah tentang seorang pengelana kata. Aku menyebut dan memanggilnya Putra Buana, seorang pemuda pengembara. Rumahnya adalah dunia kata-kata. Dia bersahabat dengan pena. Ia mengeluhkan segala penat ke setiap carikan kertas. Kadang mengadu kepada Gibran sembari meminta syair daripadanya, sebentar mendekam di kamar seperti Renatus sembari melepas tanya dalam ruang kepalanya, memantul-mantul mencari jawaban.
Kadang ia bermain-main dengan kelamin, menelisik masuk ke kantung kemih tempat di mana keagungan dan kehinadinaan kata bertahta. Suatu ketika ia bisa memporakporandakan kemapanan dan menjadi gila. Baginya, meminjam Gibran, gila adalah sebuah pembebasan. Pembebasan yang berdasarkan pada fakta bahwa sejatinya manusia itu petualang kehidupan.
Ia terdampar di malam-malam senyap, menjadikan sunyi yang pekat sebuah tempat wisata paling indah. Ia memandang suara-suara malam dengan mata hati yang tajam, memajukannya dengan berisik siang jadi simphoni rasa yang indah untuk didendang dan didengar.Hanya mata kata yang dapat melihat segala kehidupan serupa berlian.
Selapis-lapis kecerdasan dalam kepalamu tidak cukup untuk mendefinisikan siapa Putra Buana. Lagi-lagi meminjam Gibran, dia adalah kata, yang tidak bermakna tapi kadang bermakna dalam banyak hal. Dialah kata, sebuah senyawa yang dileparkan ke ruang kehidupan untuk ditafsirkan.
Suatu ketika kau menyebutnya gila, tapi pada saat yang sama kau mengaguminya sebagai yang bijak. Suatu saat kalu menstigmanya bodoh, tetapi dari balik dada murnimu kau mengagumi kecerdasannya. Dialah Putra Buana yang dilahirkan untuk ditafsirkan, karena tidak ada sebuah definisi pasti atasnya. Mendefinisikannya adalah sebuah pekerjaan yang terlalu dini sebelum dia tutup usia, atau pun setelah dia meregang nyawa, tentang Putra Buana masih menganga tanya.









































