Bagaimana sakitnya alam jika dia dikebiri. Alam tidak hanya meringis, dia pun bisa murka. Tanah longsor, bencana alam dan banjir yang menimpa hampir merata di pelosok negeri ini adalah sedikit peristiwa dari geliat murkanya. Lantas, kita menggerutu “Mengapa alam tidak bersahabat, rupanya kiamat mendekat”
Andai alam dapat menjawab dalam bahasa kita, dia pun akan berkata “Aku ditakdirkan untuk memberi kehidupan, tetapi jika kamu menghendaki mati maka benarlah katamu bahwa kiamat mendekat” Namun, kita tidak pernah sadar bahwa kita adalah pembuat ulah. Bahwa pengebiri itu adalah kita.
Kita yang terlalu sering dan bahkan biasa melempar sampah padat ke ruang luas, mengepul asap kendaraan ke langit lepas, menggunduli hutan dengan loba sampai menggerus-gerus tanah lembab. Kita telah menyalahgunakan amanah dan sabda pencipta.
“Beranak cuculah dan bekembangbiaklah, kuasailah muka bumi” bukan lagi sabda yang harus disyukuri, tetapi telah menjadi kalimat mati yang disalahtafsir. Kita lantas bukan menjadi cocreator dei, tetapi sudah sedang hanya sebagai pemuas nafsu kebutuhan ekonomis semata.
Kita baru tersadar ketika musim panas melampaui waktunya. Wajah bumi kerontang. Aliran sungai sudah jadi serupa barisan batu kali. Hujan jarang menikahi bumi lagi. Laut melintasi pesisir memasuki daratan. Di ujung kesadaran kita ada penyesalan yang selalu terlambat dijumpa. Hingga berulang alam menegur kita.
“Dari nganga kemihku, tidak hanya menghilangkan sepasang pelir. Darahku tercurah ke kulit tubuhmu, jadi gerhana atau jadi neraka. Bukan hanya kujadikan bulan berduka, karena membuatnya menjadi janda. Tetapi juga membuatmu meringis kepanasan ditampar terik marah merahku. Marahku adalah marahmu”









































