JALANSelalu aku harus mengadu, jika bukan kepada buku maka kepada pena. Kepada buku, aku mendengarkan keluh kisah, cerita, gagasan dan pandangan, dan kepada pena aku mengadukan keluh kisah, cerita, gagasan dan pandangan. Sahabatku adalah penulis dan menulis. Mereka selalu mendengarkan setiap jeritan hati, dan selalu bersama menggembirakan kebahagianku.

Hari-hari ini, aku merasakan sepi yang tak terhankan. Sudah kutulis Bugil, tapi rupanya tidak cukup. Aku ingin mendengar kisah dan terita. Sudah kudengar The Last Empress-nya Anchee Min, tetapi belum juga terobati. Dan ketika kudengar Umar Kayam baru aku memahami arti pertnyaanku sendiri.

Kudengar Dialog Umar Kayam dengan saksama, dan aku berhenti di Sesudah Rusli. Bersama Umar Kayam aku terpaku di hadapan lukisan-lukisan Rusli. Kanvas putih dan sekejap sapuan kuas. Umar Kayam terpana “Lukisan-lukisan kosong Rusli itu pada hakekatnya ekspresi yang bagaimana? Tanyanya, tanyaku juga.

Aku harus mengambil jarak pada keramaian Jakarta, berisik lalu lintas, gemuruh roda kendara. Aku meminjam sedikit waktu untuk berdialog dengan Kayam. Kata Kayam, Rusli sadar betul, di zaman yang terus berlari manusia mesti diberi waktu untuk merenung. Melalui kanvasnya yang seperti tidak bernyawa, Rusli menyadarkan arti dan makna ‘sejenak untuk diam’ yang menurut Umar Kayam sebagai sebuah momen pengendapan.

Momen pengendapan dan atau sejenak untuk diam adalah benar-benar sejenak, tidak lama. Sesuatu yang sangat vital dan peka telah merasuk masuk dalam kesibukan kita, lantas memanggil-manggil kita untuk menangkapnya. “Lukisan-lukisan kosong Rusli itu pada hakekatnya ekspresi yang bagaimana? Pertanyaan yang sama bisa diajukan “Apa yang mesti dipetik dari berisik Jakarta?

Mengambil jarak dan membiarkan ketenangan merasuki seluk beluk jiwa dan raga, adalah jawaban yang tepat untuk itu. Dan dengan itu pula lukisan-lukisan Rusli dapat dipahami dan dijiwai.

Di waktu pengendapan itu aku diam, namun bukan tanpa kata. Kukeluhkan kepada pena dan menetaskan makna perjalanan kehidupan. Berhenti sejenak. Manusia sejatinya adalah kosong, kesibukan dan kerja hanya sebagian kecil dari rutinitas yang bisa dijejali dalam ruang jiwa nan luas. Kita menganggap jiwa kita seperti sudah tumpah ketika kesibukan terus berjejal-jejal menyesaki ruang jiwa. Tetapi sebenarnya tidak, aku hanya tidak bisa memisahkan dimana ruang untuk itu dan dimana ruang untuk diam.

About these ads