SINAREmpat tahun sudah, puing-puing itu senyap. Kuburan massal seperti rumah tak bertuan. Deburan gelombang sedikit menyisahkan trauma. Meulaboh berbenah setiap senja. Setelah air mata berlalu lepas, senyum pun mekar di tepi senja. Tsunami yang mengenaskan, sudah jadi cerita pemaafan.

 Aku melintasi tepian Aceh Barat dari Peunaga hingga Sama Tiga. Tiada terdengar lagi tangis isak. Senyap benar-benar senyap. Sunyi mengadu kepada diam, sepi setia menunggu malam. Anak-anak berkejar-kejaran, menyisahkan jejak kemasihadaan. Walau perlahan, Meulaboh terus berbenah menyapu sepi jadi senyum.

 Menunggu malam bukan kisah biasa, tetapi kisah perubahan. Azan yang terus memanggil dari puncak musholla menyadarkan ummat bukan hanya untuk bersembahyang tetapi juga bertobat. Berbenah diri, merubah akhlak jadi ummat yang diridhoi Allah. Memulihkan bangsa dan negara, menjaga perdamaian telah diberikan para suhada empat tahun silam, lewat gelombang yang berangkara murka.

 Menutup kisah senja, menunggu malam perubahan, aku mengutip sepenggal syair dari Fikar ”Salam damai…..telah begitu lama kita tergusur/terkubur di bukit-bukit tua/kematian saling terhimpit/jerit yatim memasuki cakrawala/pintu-pintu berlumpur tanpa suara/maka sudah waktunya semua kembali/sambutlah salam kami/ salam damai dengan bismillah/damai langit menjadi payung/ damai bumi menjadi jejak/ permadani perak nusantara.