Bungong BeutungUsianya dua setengah tahun. Wajahnya cerah, dipadu kulit tubuh yang terang gadis cilik itu tampak sangat cantik. Sepanjang hari, sejak ayahnya membelikan sepeda roda tiga, ia jarang keluar rumah. Dapur, ruang tengah dan bahkan kamarnya dijadikannya lintasan sepeda.

 Sesekali ia terjungkal tersandung lekukan lantai berlubang. Kepalanya membentur gulungan tikar. Ia tersenyum, sementara ayahnya berdebar. “Usnul, jangan nakal, awas jatuh”  teguran ayahnya disambut angin lalu. Sepeda dikayuh, lantas menghambur ke arah dapur. Ayahnya tersenyum.

 Breakkk!!! Rupanya Usnul terjungkal lagi. Ayahnya mengernyitkan dahi. “Usnul, umi udah bilang jangan main sepeda lagi, kenapa masih bawa juga” teguran itu pun disambut angin lalu, “Abu, umi marah!” Usnul mengadu. Ayahnya kembali mengernyitkan dahi.

 Usnul memang gadis cilik yang manja. Dia yang sulung dan setiap saat meminta adik. Anggukan ayah-ibunya adalah menghadiahi mainan kesukaan. Kali ini sepeda roda tiga, setelah boneka beruang dan sepatu sandal.

 Tapi Usnul tidak salah bertingkah. Jika bersepeda di dalam rumah ia tahu benar di mana ruang yang tidak boleh dijejaki dan diinjak-injak ban sepeda. “Di situ kamar abu” katanya terpatah-patah, sambil membenarkan kepang rambutnya yang hampir terlepas. “Abu selalu bersembahyang di sana” jelasnya lagi. Ayahnya tersenyum. “Sejak dini sudah harus ditanamkan nilai-nilai agama dan sejarah, agar tidak salah melangkah di hari kemudian” kata sang ayah.

Keterangan Gambar: Kegiatan belajar di Pasantren Babul Mukarammah Beutung Ateuh dengan orientasi pendidikan yang menekankan sejarah Agama Islam di dunia dan  di Aceh.

About these ads