Untuk para pelaku tindakan kekerasan dan pemerkosaan terhadap warga etnis tiong hoa pada Mei 1998.
Seorang bengal terhempas di badan aspal. Ia terjungkal ditimpa tampar pintu kijang inova. Beringasnya hilang, galaknya lenyap. Semua mata menerjangnya, membuatnya bertekuk lutut di bawah sial.
Mata yang menatapnya itu tajam. Hingga menusuk ke dasar hati. Hatinya terluka dihujam mata yang melototnya pada setiap siang, dan pada mimpi-mimpi malamnya. “Kau masih juga mengejarku sampai aku tidak bisa mengelak lagi. Aku pasrah dalam pijaran mata nyalangmu” katanya sambil lalu.
Langkahnya gontai. Tertatih-tatih sebelum lenyap di tikungan. Di pangkal pahanya, sepertinya masih ada darah gadis Mei, yang fotonya ada di koran kemarin dulu, berita mengenai pengusutan kasusnya.
“Kenikmatan waktu itu sekiranya membuatku orgasme sampai sekarang. Tapi matamu masih lebih tajam dari pisau yang menyembelih hidupmu. Matamu, menghujamku siang malam membuat tubuhku bergetar, bersembunyi di balik ketakutan” keluhnya di pinggir jembatan.
“Oh…gadis Mei maafkan aku, andai aku tidak menerima uang suruhan. Air mata dan darah dan gigitan dan erangan dan kematianmu tidak memburuku. Mata kenangan, aku ingin kau padam dan tersesat dalam pencarian, tapi aku tak dapat mengelak kau telah menjadi jiwaku” kata terakhir itu mengantarnya menuju tidur yang panjang di tepi jembatan yang senyap. Ia pergi dikejar trauma, diintai depresi setiap saat.
Sumber gambar: indonesian.cri.cn/…/2009/03/30/IMG_4609.jpg









































