hari mau marahSeekor babi hutan tiba-tiba saja melucur dari mulutnya. Anaknya yang sulung pun berlari lintang pukang. Ketakutan. “Dasar anak monyet!” umpatnya sambil mengacungkan telunjuk. Si sulung menjauh. “Jangan pernah datang lagi kemari, semoga dimakan harimau”. Serupa doa ia memanjat. Si sulung pun menghilang dari balik pintu sambil melepas umpat “kalau saya anak monyet, ayah adalah monyet

 Si sulung memang bengal. Selalu saja bertingkah. Dan setiap lagaknya selalu mengundang amarah sang ayah. Ayahnya pun kadang salah tingkah. Jika kehabisan kata-kata marah, maka segala macam binatang keluar dari mulutnya. Mulutnya serupa gerbang kebun binatang.

 Sore hari itu, gerbang itu meledak, tegal si sulung pecahkan asbak. Padahal itu bukan asbak biasa. “Ini asbak dari pualam, karena dia telah memecahkannya maka tidak akan pernah aku mengampuninya. Jika mau menendang bola bukan di ruang tamu ini tempatnya”

 Si bungsu datang mendekat “Kenapa ayah marah-marah, abang kan nggak tahu kalau ada asbak di situ” Belum juga si kecil merapat, dari mulut sang ayah melucur lagi seekor ular. “Diam kau, semua sama saja, tidak beda dengan anjing dan ular, pandai menjilat” Katanya penuh amarah. Si kecil pun menjerit dan  mengiba. “Pergi dari sini, masuk kandang! Si bungsu pun turut.

 Langkah si bungsu gontai menuju kamar. Suasana sunyi. Sang ibu tiba-tiba keluar dari balik pintu dapur “Ayah, kenapa marah-marah sama anak-anak, seberapa besar cintamu kepada anak-anak, apakah cinta kita yang telah melahirkan asbak? Sang ayah mati kata. Kata-kata sang ibu begitu menyengat rasa.

 Mulut sang ayah merapat, mengapit ujung batang rokok. Menghembus perlahan, segala binatang pun berterbangan ke langit lepas. Menjadi mendung yang sebentar akan meneteskan air mata. “Maafkan saya ma”

sumber gambar:  www.desktoprating.com/wallpapers/animal-wallp

About these ads