kahlil-gibranDalam tulisannya yang berjudul Semua Karena Cinta (Yogyakarta, Narasi, 2005, hal. 54) Kahlil Gibran melukiskan cinta dalam kehidupan serupa tetumbuhan berbunga, “Hidup tanpa cinta bagaikan sebatang pohon yang kokoh berdiri namun dahannya kering, tanpa dihiasi buah ataupun bunga”

Gibran meyakini bahwa cinta merupakan dimensi mendasar hidup manusia di dunia. Latar belakang pemikirannya adalah karena manusia dilahirkan dan ada di dunia karena cinta. Dan Cinta merupakan metafor atas keberadaan Allah. Allah adalah Cinta. Tampa cinta manusia dan kehidupannya kehilangan orientasi, kehilangan pegangan, kehilangan hidup itu sendiri. Tampa cinta manusia mati.

Cinta yang dilukiskan Gibran tidak sekedar hubungan manusia dengan manusia, tetapi juga manusia dengan Allah dan manusia dengan alam. Cinta itu selain melekat secara personal dalam setiap makluk hidup, juga menjadi pelingkup-pelengkap-penyatu kehidupan itu sendiri.

Bagi Gibran cinta tidak punya makna selain mewujudkan maknanya sendiri. Cinta tidak memberikan apa-apa pada manusia, kecuali keseluruhan dirinya, dan cinta pun tidak mengambil apa-apa dari manusia, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tidak memiliki atau dimiliki, karena telah cukup untuk cinta. Namun jika manusia mencintai dengan hasrat dan keinginan, maka manusia harus meluluhkan diri, mengalir di dalamnya, dan terlibat.

Hanya saja dalam kehidupan manusia cinta yang sempurna tidak dapat ditemukan. Kehidupan adalah tabir kegelapan, berkerudung dan bercadar. Melalui dan dalam cinta manusia senantiasa digiatkan untuk melakukan pencarian makna kehidupan dengan mengamalkan cinta kasih, tetapi kesempurnaan cinta hanya ada dan dimiliki oleh Allah.

sumber gambar: blog.beliefnet.com/…/imgs/kahlil%20gibran.jpg