Pernahkan kau diberi tanda? Seikat mawar putih? Sebuah cium pada kening? Atau mungkin seuntai puisi? Dan sekembang senyum manis? Atau sekepal tinju? Sebilah tampar? Di hadapan tanda-tanda, kau hening dan bertanya. Tapi sayang, mengapa tidak sudi kau coretkan di catatan harian, atau pada sepucuk daun tua.
Ketika buku harianmu terburai di usia senja, dan daun gugur sudah, semua tanda kau rekam dalam benak jadi jejak-jejak. Kau bercerita kepada cucu bahwa ada sebuah peristiwa yang sulit lupa. Memendar-mendar dalam kepala, meleleh keluar dalam cerita. Sekedar lisan.
”Konon” demikian kisahmu. Di hadapan tanda-tanda, tak kau temukan jawaban. Mungkin hanya senyum dan bayang yang sulit lupa. Kau bawakan tanda-tanda, dalam sunyi tidur malam. Dalam pentas di tempat doa. Seharusnya kau saksikan sendiri lewat pena dan buraman berlembar-lembar.
”Konon” baru sebelum ajal menjemputmu, dengan terpatah-patah kau kisahkan ”Cucuku, di hadapan tanda-tanda, hanya akan mengatakan makna. Tanda tiada bertanda. Ia mengatakan makna. Tanda terbesar dalam hidupku adalah perjumpaan. Hanya itu”
Lantas, kau tutup usia. Mimpimu gugur bersama senja, dan lembaran-lembaran puisimu terburai dimakan ngengat zaman. Ketika cucumu besar kelak, dia akan bersumpah ”kakekku penyair yang bebal, mengapa segala kisah dia enyahkan. Sepanjang hidupnya hanya berkhayal, tetapi tidak juga menuliskan sepatahkatapun. Sekarang dia telah tiada yang ada hanya kenangan akannya yang meranggas”











































1 tanggapan kepada “Tanda Kata”
With This Diet I Lost Thirty Póunds in Under a Month
Mei 6th, 2009 pada 23:39
Hi, good post. I have been pondering this issue,so thanks for sharing. I will likely be subscribing to your blog. Keep up the good posts