gibran paintingPeri datang lagi. Ia selalu datang setiap berganti malam. Pada malam sebelum-sebelum peri rupawan itu selalu berpakaian putih. Wajahnya terpancar suci serupa santa. Menebar wangi mawar. Tapi pada malam ini, ia tidak berbusana, tubuhnya berwarna jingga seperti matahari terbenam. Ia anggun dan menawan. Tungkainya dilipat, belah dadanya bening, senyumnya mengembang di antara rambut terjatuh padu bahu.

Peri itu datang bukan lagi membawa pesan. Malam-malam sebelum peri sudah berpesan “aku akan datang menemuimu, sudah berulang aku mencari, di relung-relung hati, di seluk beluk bilik, di lingkaran pelangi, sampai di balik mati tapi tidak kutemukan lendir birahi, jika engkau punya sedikit, berikan aku setitik”

Aku terperanjat, ketika mendengar pesan itu berganti rupa akan jadi peristiwa. Ia membawa birahi, tanpa cinta, tanpa ikatan. Peri berawan tampa tempat, tampa muasal datang meminang, pinta sanggamah, sedang aku masih perjaka.

Di balik selimut mimpi malam. Menggigil tubuhku jadi menghangat. Ia mendekat, mendekap. Aku meronta, meregang, menampik, tapi tidak dapat mengelak. Aku ditindih bugil putih, berparas jingga. Leleh lendirnya terasa hangat, membasahi malamku.

Kami bersatu di ruang sepi, di balik malam. Kami bersama menyantap nafsu birahi, tanpa cinta, tanpa ikatan, lupa dosa. Hingga kubangun esok pagi. Mandi basah membaptisku. Di ruang sadar aku terjaga seperti sedia kala. Peri pun menghilang.

Sumber gambar: (www.zenker.se/Books/gibran_art.jpg, dan www.lebanonpostcard.com/…/etreinte.jpg )