Pagi terbit. Senyumnya merekah masuk sampai ke balik tirai tidur. Mengusir mimpi tentang kematian kata, yang sepanjang malam sekaratan dalam benak. Aku terjaga. Suara dentang lonceng gereja tidak terengar. Tapi, suara doa dari puncak musholla menyadarkan aku, bahwa aku ada di perantauan yang jauh. Jauh dari titirasa, sanak keluarga dan juga jauh dari dentang lonceng gereja

Paskah sudah tiba. Sebuah paskah kata. Tentang kata yang sepanjang malam bergelut dengan doa, melamentasi salah-salah dunia. Membasuh dengan keringat dan darah.

Tetapi mengapa aku tidak terjaga sementara kata itu berdoa. Sudah lampau-lampau hari kata itu berkutat dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan dunia. Kata itu, sampai ketika malam sekaratan menyepi di Getsemani. Di sana, seperti di penghabisan Ia berontak sampai berpasrah penuh sembah

Dari balik bulir embun yang akan pecah disengat panas. Kata-kata yang pernah hampir ajal bangkit berkhotbah. Kata-kata yang melukiskan tentang peristiwa. Menafsirkan dan memberi makna atas peristiwa.Memberontak atas peristiwa. Menyambuk, menyeret, menyalibkan, sengsara, luka, darah dan mati. Tapi kata-kata itu bangkit lagi.

Kata itu begitu hidup. Terlahir kembali sebagai kata seperti yang dilukiskan Gibran sebagai ‘aku’ yang kadang tidak bermakna, tetapi juga bermakna dalam banyak hal.

Dari ujung lidahnya kata itu mewartakan tentang keabadian dan hidup kekal. Dari ujung penanya, kata itu melukiskan syair-syair kemanusiaan. Kata itu penuh rasa, penuh warna.