slide1Setelah malam membunuh hari itu, samudera di barat tampak jingga darah. Langit kelam. Bocah-bocah yang menyepak bola telah pulang. Pasangan pencinta yang berkisah di bawah saung pun menghilang. Laut menyusut perlahan. Namun gelombang tidak diam, sesekali meradang, pecah sunyi ujung hari itu.

 

Aku melintasi pesisir Suak Ribee Meulaboh Aceh Barat. Berlangkah lebih cepat, seperti mengejar matahari senja, memimpi peluh meletus dari pori yang lama merapat diam. Tapi senja begitu singkat. Kelelahan tidak terasa hingga terbit sebuah tanya apa arti perjalanan?

 

Jejak membekas di pasir basah. Segera setelah buih gelobang datang menjilat, pasir itu sudah menjadi seperti sedia kala. Aku terpana, tersintak juga serentak terpesona. Benarlah sabda nabi Isa dalam Kitab ‘seperti membangun rumah di atas pasir’ tidak ada jejak yang kekal selain dalam sekejap kematian datang menggenapinya.

 

Hidup itu singkat, sesingkat jejak di pasir basah. Serupa itu aku menyimpulkan. Sedikit merinding, tapi tetap membuncah percaya. Percaya pada setiap perjuangan, setiap usaha, setiap gerak dan langkah, juga visi dan misi-misi.

 

Senja itu, sepanjang sapuan mata, Suak Ribee tampak lengang. Tulang kayu puing tsunami menjadi saksi sejarah yang sebentar juga akan hilang. Namun sebelum waktu datang melumatnya, aku mendekat. Bersamanya aku menikmati kematian senja, kematian yang sesaat.

 

Jika senja dinikmati dengan rasa, mengapa kematian tidak harus diterima dengan jiwa? Pertanyaan konyol oleh seorang tolol, yang oleh dunia distigma manusia ‘berotak zero’

Tapi rupa-rupanya tidak. Tidak setolol itu manusia berpikir. Tidak sebodoh itu manusia berargumentasi.

 

Kebenaran jejak sudah diuji waktu, bahwa hidup itu proses dan proses itu adalah perjuangan. Vita et militia, hidup adalah perjuangan ada benarnya. Orang Yunani tidak bodoh.

 

Seperti senja, kita pun akan mati, namun sebelum ajal itu tiba, kematian itu harus diterima. Menerima kematian adalah memaknai perjuangan, memaknai hidup.