“Kembali ke kamarmu” aku tertarik dengan untaian kata itu. Kata-kata yang tidak keluar dari mulut seorang waras, tetapi dari seorang ‘gila’ yang bernama Lud setelah aku memberikannya selembar uang seribu. Mengapa Lud menyuruhku kembali ke kamar, sementara aku hendak menuju kantor di Mardani Raya.
Aku diamkan ‘kegilaannya’ tetapi pengalaman perjumpaan itu begitu menyengat rasa. Langkah kakiku berbalik arah menuju kamar. Antara bingung dan tetap bertanya berjatuhanlah titik-titik renungan.
“Kembali ke kamarmu” tangan saya bergetar ketika hendak membuka gagang pintu. Kubuka perlahan, terdengar engsel karatan berderak. Seekor tikus kecil meloncak terperanjat ke balik meja baca. Asbak rokok jatuh menghantam wajah lantai. Berantakan. Puntung-puntung rokok mengenai buku yang berserakan seperti berlomba mau membaca kata.
Asap mengepul. Aku menghembuskan asap rokok berulang kali sebelum kutarik kursi berkaki roda. “Aku sudah di kamar” kataku dalam hati menjawab permintaan Lud. Asap meliuk memanjat dinding kamar. Kubiarkan hempasan angin mengganggu ariku. Semetara mataku menyapu bersih segala seluk beluk kamar. “Mengapa aku harus kembali ke kamar” tanyaku ingin tahu.
“Ya inilah kamarku”
Di belakangku buku-buku menumpuk seperti sampah. Serakkan kertas buram penuh coretan tindih-menindih sampai sebagian yang lain tertidur di atas kasur kusam. Meniduri tidurku. Merebut mimpi-mimpiku.
Di sisi sebelah kiri pakaian-pakaian kotor meringis minta dicuci. Mereka tergeletak mungkin sudah enam hari yang lalu. Penderitaan mereka penuh misteri terlukis seperti wajah pieta yang tertempel di dinding kamar. Air mata jatuh dari wajah bunda, mengenai luka lambung putranya yang setengah sembuh. Aku membiarkan pakaian-pakaian itu jadi kuburan luka, derita dan air mata.
Di sisi sebelah kanan targantung potret wajahku sendiri dengan sebaris puisi disampingnya. “Tuhan…datanglah..tindih dan setubuhilah aku…hingga lendir zakar-Mu membuahi rahimku. Sebab aku mau menjadi ibu untuk anak-anak-Mu” demikian bunyi puisiku itu. Di bawah lantai, persis dibawah potret itu serpihan-serpihan kaca bertumpuk. Wajahku pecah terpenggal-penggal seluas bidang keing-keping cermin.
Di depanku di atas meja berderet-deret botol air mineral yang habis isinya. Sebuah gelas kaca dengan ampas kopi berminggu-minggu mengendap. Jamur putih yang mungkin mengandung racun pekat menggerogoti wajah gelas itu. Dadaku jadi bergetar, lambung dan paru-paruku jangan-jangan serupa itu.
Di bawah kaki meja bacaku, tampak debu-debu saling memeluk. Empat kaki kursiku ingin menendang kumal dan dekil-dekil debu itu. Tetapi pelukan itu sudah sangat menyatu. Di sisi yang lain puntung-puntung rokok tampak seru mengadu. Berlomba-lomba menggerus isi buku. Yang sepuntung berdiskusi dengan Johan Galtung tentang studi perdamaian. Yang sepuntung lagi berdebat tentang jiwa-jiwa pemberontak-nya Kahlil Gibran. Yang lain membedah tesis mengabdi pada kebenarannya Sudarminta. Sementara yang satunya lagi membaca kitab suci. Belum menyebut yang lain, mereka berseteru dengan waktu mengemut elok cerita Ananta Toer dan menyusu sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri.
Mataku penat. Aku terpejam. Kucium bau menyengat. Kudengar suara memecah. Tubuhku berontak. Jangan-jangan aku sudah benar-benar menjadi orang gila. “Kembali ke kamarmu” suara Lud seperti sabda, aku terperanjat. Tetapi rupa-rupanya juga tidak. “The Madmen” kata itu tiba-tiba berkelebat masuk merasuk ke dalam benak. Itu suara Kahlil Gibran “Kegilaan adalah langkah pertama ke arah sifat yang tanpa pamrih. Jadilah gila dan katakan kepada kami apa yang tersembunyi di balik tirai kenormalan. Tujuan dari kehidupan adalah untuk menuntun kita mendekati rahasia-rahasia itu dan kegialaan adalah satu-satunya cara untuk memahami rahasia-rahasia itu”










































