Hari itu hari Kamis di bulan September 2008, itulah pertama kali saya memasuki Beutung Ateuh. Sebuah tempat yang sangat indah terletak di bawah lembah pinggiran Leuser. Gemuruh arus sungai menemani sunyi para petani sawah dan teriakan bocah-bocah terdengar riang di balik lekukan sungai yang agak dalam.

Mata saya melayang tanpa sasar, membentur celah-celah pohon dan dsc00893dedaunan. Dari balik rumah papan setengah jadi, muncul seorang pria bersorban hitam. Matanya yang kecil menatap tajam ke arah kami. Saya merinding. “selamat siang pak” sapaku dengan hati-hati. “Wallaikum sallam warhmatullah wabaraqatuh” jawabnya.

Kepada beberapa santri beliau meminta untuk melanjutkan kerja, merentangkan kawat-kawat duri pada setiap pilar kayu yang ditanam dengan sangat dalam. “Kris” saya memperkenalkan nama sambil menjulurkan tangan, beliau memperkenalkan namanya, jawabannya singkat kemudian mengajak masuk “mari kita ke dalam saja, kita duduk-duduk di dalam” ajaknya. Beliau membalikkan badan lantas mendahului saya menuju sebuah gubuk tua. Tanpa kata.

Mendengar nama dan melihatnya secara langsung, bayangan saya berkelebat mundur ke tahun 1999. Di mana ketika itu di Beutung Ateuh terjadi tragedy berdarah yang merenggut nyawa Teungku Bantaqiah (ayah kadungnya). Dan menurut cerita 56 santri tewas dalam tragedi tersebut termasuk Teungku Bantaqiah.

Dada saya bedetak. Pertanyaan yang selalu muncul dalam benak saya adalah apakah di Beutung Ateuh masih terpendam trauma dan juga dendam. Berangkat dari peristiwa berdarah itu apakah warga Beutung Ateuh punya sikap dan pandangan yang berbeda tentang yang lain baik secara structural maupun personal? Relasi dan komunikasi seperti apa yang mesti saya bangun? Ah…hingga ketika itu dada saya selalu sesak dengan tanya-tanya itu.

“Pak Kris mari masuk, silakan duduk, jangan malu-malu” ajakan Teungku Malikun membuyarkan lamunan saya. Ketakutan pun tiba-tiba melemah mendengar ajakan ramah itu. Dalam gubuk beratap rumbia, bersama beliau kami kisahkan banyak hal tentang Flores dan Beutung Ateuh.

Suasana pun sangat mencair. Tanya-tanya di atas tiba-tiba saja berkelebat entah ke mana. Huruf dan kata yang selama ini menggelantung menyesakkan dada jatuh luluh dalam lupa.


Keterangan Gambar:  dengan beberapa santri sedang bertukar cerita selepas bekerja.