Hak Politik Paranormal dalam Ruang Demokrasi
Saya menyebut hak politik artinya – dalam ruang demokrasi – siapapun diberikan ruang untuk berekspresi, mengeluarkan pendapat, mengatakan kehendak, menagih janji, memberikan kewajiban karena itu merupakan hak asasi manusia yang tidak seorang pun, atau satu undang-undang pun bisa mencegahnya selain Tuhan membuatnya bisu, lumpuh dan atau mencabut nyawanya.
Namun dengan catatan bahwa hak politik yang disampaikan harus mempertimbangkan hak politik orang lain, tujuan bersama sebagai sebuah bangsa dan lebih penting dari itu adalah mempertimbangkan nilai-nilai moral universal.
Di setiap awal tahun, dan lebih-lebih menjelang pemilu (pemilihan umum dari tingkat kabupaten/kota sampai pusat) mencuat aneka prediksi dan ramalan atau penglihatan dari paranormal. Sebut saja nama-nama beken seperti Mama Lauren, Ki Joko Bodo, Permadi, Ki Kusomo, selalu ramai didatangi ‘orang’ untuk menanyakan nasib pribadi dan bangsa ke depan. Tidak cukup dipendam di dalam hati, media masa pun turut ramai mempublikasikannya.
Tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan Hak Politik Para Paranormal, tetapi sekedar memberi pertimbangan kepada kita semua untuk berekspresi, mengeluarkan pendapat, mengajukan argumentasi haruslah mempertimbangkan faktor resiko baik sosial maupun politis. Apa dampak social politis dalam ruang demokrasi – kondisi Indonesia seperti sekarang ini yang sedang diterjang krisis – jika seorang paranormal dimintai meramal tentang kehidupan bangsa dan Negara lantas dipublikasikan di media massa?
Kita mungkin menganggap remeh pertanyaan di atas, tetapi jika ditelisik jauh sampai ke soal faktor resiko – sosial politis – sebetulnya kita dihadapkan dengan ‘kerapuhan’ demokrasi.
Demokrasi memang tidak dapat dimakan di dunia ketiga seperti Indoensia. Tetapi demokrasi adalah sebuah proses yang menekankan pada pendidikan politik warga bangsa, dimana warga bangsa diberikan ruang untuk berpikir, mempertimbangkan secara akal sehat pilihan-pilihannya.
Namun kehadiran peramal dan ramalannya – yang dipublikasikan – justru melemahkan sisi penting demokrasi itu. Lantas warga bangsa terjebak pada pilihan-pilihan ‘cepat saji’ ditambah dengan berbagai krisis yang menerjang sektor-sektor vital kehidupan bangsa membuat warga bangsa tutup buku pada proses demokrasi yang sehat “daripada pusing mikirin ini atau itu, toh lebih baik ikut saja kata paranormal, kan paranormal yang itu sering muncul di TV, itu pasti benar”










































