slide1

Siapakah yang membuat Aceh diam berperang dan menyudahi air mata? Siapakah yang menyeret Hamid Awaludin dan Malik Mahmud pergi jauh ke Helsinki untuk menandatangani MoU perdamaian? Siapakah yang dapat disebut sebagai pahlawan di Nanggroe Aceh Darussalam sejak itu?

Mungkin sebagian orang sepakat bahwa mantan presiden Finlandia, Marti Ahatisari, sebagai pahlawan sehingga tak pelak mendapat Nobel Perdamaian. Sebagian lagi pasti mengangguk jika Teungku Hasan Tiro. Sebagian lagi mengatakan Susilo Bambang Yudoyono, Yusuf Kalla, Malik Mahmud, Muzakir Manaf atau Hamid Awaludin dan atau tokoh-tokoh yang lain.

Menurut saya yang disebut sebagai pahlawan adalah ribuan korban gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Titik. Terlepas dari kepergian mereka direlakan atau tidak. Di medan laga kehidupan Nanggroe Aceh Darusallam, kepergian mereka adalah anugerah yang tak terkira. Mungkin Tuhan pun meneteskan air mata ketika harus mengambil mereka dengan paksa.

Dari balik dada sesekali saya mengumpat kepada Tuhan, bahwa Tuhan itu kejam. Dalam kesedihan yang mendalam terbalut dendam. Tapi dari balik kesedihan yang sama menganga misteri Tuhan, yang sesekali pula mendesak saya untuk menumpahkan iman. Bahwa dibalik peristiwa ada makna. Dan di setiap peristiwa harus ada kalah. Dan tidak semua kekalahan adalah penghabisan.

Mereka yang disebut sebagai pahlawan adalah mereka yang ‘tewas’ dengan segenap jiwa dan raga dalam sebuah peristiwa. Dan karena harus ada yang ‘ditewaskan’ dalam peristiwa maka sadar itu itu membucah jadi pertobatan dan perubahan. Kita baru menyadari pentingnya perdamaian ketika para pahlawan itu berujar ‘selesailah sudah’ persis ketika mereka bergulat dengan maut.

Maaf…mungkin saya agak lancang untuk menyebut mereka sebagai pahlawan, dan lebih lancang lagi jika saya menyebutnya sebagai pahlawan kehidupan. Tetapi sebutan, gelar dan juga pengakuan itu bukan lahir tanpa latar. Latar itu adalah perjumpaan dengan rasa, sehingga pengakuan itu mucul sebagai yang amat personal.

Perjumpaan itu terjadi pada malam Lebaran kedua, 2 Oktober 2008. Ketika itu, kebisingan Meulaboh menyeret saya untuk mengungsi ke arah kuburan massal di Ujung Karang Meulaboh Aceh Barat.

Saya tiba di halaman pekuburan kira-kira selepas Magrib, sama sekali tidak ada seorang pun di sana. Tapi entah mengapa saya tidak merasa takut sedikitpun. Yang justru muncul dalam ruang rasa saya adalah perasaan malu. Karena toh..saya tidak mempersiapkan diri untuk menjumpai mereka…saya tidak membawa karangan bunga, saya hanya hendak menenangkan diri. Itu saja.

Dari kuburan massal, sesekali terdengar letusan petasan yang dilemparkan anak-anak ke udara. Langit Meulaboh pun bercahaya. Saya benci keramaian seperti itu. Dari pesisir karang, deburan gelombang bertubi menampar malam. Malam pun bersuara. Saya pun benci suara itu.

Tapi di tengah kuburan malam itu, hanya ada senyap yang tenteram. Bathin yang damai. Tiba-tiba dalam ruang rasa berkelebat sekumpulan tanya yang memaksakan saya untuk menjumpai sesuatu. Dan malam itu saya menjumpai kepasrahaan yang total, kepergian yang tulus, kehilangan yang ikhlas.

Saya menemukan pribadi-pribadi yang sudah dengan tulus menerima peristiwa dan mau melebur di dalamnya. Bahwa mereka memang sudah ditakdirkan untuk pergi menemukan kehidupan yang baru bagi Nanggroe Aceh ke depan.

Saya meneteskan air mata. Sungguh tak tertahankan. ”Mengapa yang hidup harus mati, hanya untuk sebuah kehidupan yang lain. Padahal kehidupan yang sedang dijalani begitu sebentar” saya merenung sendiri.

Dari tepi kuburan itu, dada saya memberontak. Saya larut dalam kebencian. Saya benci suara petasan apalagi deru ombak. Bunyi petasan itu mengingatkan saya pada bunyi mesiu perang yang sekian lama mengoyakkan Aceh. Dan deru ombak mengingatkan saya akan dasyatnya gempa dan tsunami. Dan karena dua hal itu ada kehidupan yang harus mati.

Peristiwa gempa dan tsunami 26 Desember 2004 yang menelan ribuan jiwa di Nanggroe Aceh Darussalam adalah sebuah peristiwa kehidupan. Mereka yang meninggal dunia adalah korban yang sesungguhnya dari konflik berkepanjangan. Mereka adalah pejuang kehidupan. Mereka juga adalah bagian dari harta Allah yang sesungguhnya, yang harus diselamatkan dari segala situasi yang terjadi. Mereka adalah para syuhada.

Tapi sayang tidak ada satu pun dari kita yang menyadari keberadaan mereka sebagai pahlawan. Apalagi menyadari kejadian itu sebagai peristiwa kehidupan. Kita terjebak dalam pandangan bahwa mereka adalah ’korban’, dan kepergian mereka sebagai ’kematian’. Sungguh sangat disayangkan.

Di tengah malam itu saya temukan hanya satu yang hidup yakni ketulusan, keikhlasan, dan totalitas kepergian mereka. Saya menemukan sebuah peristiwa kehidupan. Sesuatu yang sulit diterima dengan akal sehat, tetapi dimaklumi oleh hati. Hanya hati yang bisa menerima dan memahami peristiwa itu. Inilah rahasia peristiwa.