“Selamat Datang Di Kota Rok”

20 Desember 2009 at 08:24 (Catatan Somerpes) (, , , , , , , )

Pawai Busana Muslim yang digelar PEMKAB Aceh Barat digelar pada Jumad 18 Desember 2009 dihadiri oleh ribuan massa dari berbagai elemen, walaupun kebijakan untuk mewajibkan Aceh Barat sebagai kota wajib berbusana muslim dan muslimah melahirkan kontroversi

“Selamat Datang Di Kota Rok” Demikian tulisan sebuah spanduk, di gerbang masuk kota Meulaboh Aceh Barat, tepatnya Jembatan Besi Meurebo. Namun tidak berapa lama bertengger di atas jembatan, spandul ‘ilegal’ itu lantas diturunkan Tim anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Barat, Drs M Nur Juned mengatakan bahwa, spanduk yang berisikan selamat datang di kota rok itu dipasang oleh orang yang tidak senang dengan penegakan syariat Islam yang sekarang sedang gencar-gencarnya diberlakukan di Aceh Barat terlebih sekarang setiap muslim diwajibkan berbusana muslimah.

Sebenarnya spanduk tersebut hanya salah satu respon ketidakpuasan sebagian masyarakat atas kebijakan Pemerintah Pemerintahan Kabupaten Aceh Barat yang mewajibkan Meulaboh sebagai “Kota Wajib Berbusana Muslim dan Muslimah”.

Jika mau kembali merunut ke belakang, sejak munculnya gagasan tersebut sudah banyak respon yang muncul, baik dari kalangan masyarakat maupun dari aktivis masyarakat sipil. Tetapi bupati Aceh Barat, Ramli Ms tetap konsisten dengan kebijakannya dan bahkan menghimbau kepada semua pihak untuk menghargai aturan tersebut.

“Ketentuan dan larangan penggunaan celana panjang dan ketat di wilayah Aceh Barat tetap akan berlaku per Tanggal 1 Januari 2010 mendatang” Selanjutnya Ramli meminta kepada masyarakat muslim yang tinggal di kabupaten tetangga seperti Aceh Jaya, Nagan Raya, Abdya serta kabupaten/kota lainnya di Aceh maupun masyarakat Indonesia dan umat muslim supaya menghargai dan menghormati ketentuan tersebut, sebab kebijakan yang ditelurkan adalah untuk kebaikan masyarakat umum dan demi akhlak hidup yang lebih baik.

Permalink 1 Komentar

Air Mata Ainom

5 Desember 2009 at 12:23 (Syair Somerpes) (, , , , , , , , )

kawan saya Leonardus Depa Dey, foto di ambil di pantai Sama Tiga Aceh Barat

Siapakah yang membuat Aceh diam berperang dan menyudahi air mata? Siapakah yang menyeret Hamid Awaludin dan Malik Mahmud pergi jauh ke Helsinki untuk menandatangani MoU perdamaian? Siapakah yang dapat disebut sebagai pahlawan di Nanggroe Aceh Darussalam sejak itu?

 Di tepi nisan tak bernama, Ainom merenungkan pertanyaan-pertanyaan itu. Hatinya gundah. Wangi Jeumpa terasa hingga ke dalam dada, suluk dalam rasa. Ujung jilbabnya basah karena air mata. Ia terus menyekanya. Wala sampai melangkahkan kakinya, air mata itu terus menetas tetes jadi jejak yang sulit lupa.

 Setibanya di rumah dalam kamarnya yang senyap, meletup-letup aneka tanya. Dada Ainom berontak. Mungkin sebagian orang sepakat bahwa mantan presiden Finlandia, Marti Ahatisari, sebagai pahlawan sehingga tak pelak mendapat Nobel Perdamaian. Sebagian lagi pasti mengangguk jika Teungku Hasan Tiro. Sebagian lagi mengatakan Susilo Bambang Yudoyono, Yusuf Kalla, Malik Mahmud, Muzakir Manaf atau Hamid Awaludin dan atau tokoh-tokoh yang lain.

 Tapi bagi Ainom, dari hati kecilnya yang paling dalam sesungguhnya bukan mereka pahlawan perdamaian Aceh. Bagi Ainom yang disebut sebagai pahlawan adalah ribuan korban gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Titik. Di antara mereka itu ada ayah dan ibunya, ada pula kakak dan adiknya. Air mata Ainom pun jatuh.

 Terlepas dari kepergian mereka direlakan atau tidak. Di medan laga kehidupan Nanggroe Aceh Darusallam, kepergian mereka dan orang-orang tercinta adalah anugerah yang tak terkira. Mungkin Tuhan pun meneteskan air mata ketika harus mengambil mereka dengan paksa.

 Dari balik dadanya sesekali Ainom mengumpat kepada Tuhan, bahwa Tuhan itu kejam. “Ya Allah…Ya Allah” Dalam kesedihan yang mendalam terbalut dendam. Tapi dari balik kesedihan yang sama menganga misteri Tuhan, yang sesekali pula mendesak Ainom untuk menumpahkan iman. Bahwa di balik peristiwa ada makna. Dan di setiap peristiwa harus ada kalah. Dan tidak semua kekalahan adalah penghabisan. “Allahu akbar..allahu akbar” tangannya menengadah.

Ainom perlahan menyudahi sedihnya. Ia seperti menemukan kekuatan. Ketika ia sadar bahwa segalanya adalah dari Allah. Bagi Ainom, mereka yang disebut sebagai pahlawan adalah mereka yang ‘tewas’ dengan segenap jiwa dan raga dalam sebuah peristiwa. Dan karena harus ada yang ‘ditewaskan’ dalam peristiwa maka sadar itu membucah jadi pertobatan dan perubahan. Manusia, siapa pun dia, baru menyadari pentingnya perdamaian ketika para pahlawan itu berujar ‘selesailah sudah’ persis ketika mereka bergulat dengan maut.

 “Inalilahi wainalilahi rojiun”  terpanjat dalam doa yang khusyuk. Ainom memanjatkan maaf. Mungkin ia khilaf. Ia telah mengatakan dengan agak lancang bahwa ribuan korban tsunami, termasuk orang-orang yang dicintainya sebagai pahlawan, dan lebih lancang lagi jika Ainom menyebutnya sebagai pahlawan kehidupan. Tetapi sebutan, gelar dan juga pengakuan itu bukan lahir tanpa latar. Latar itu adalah perjumpaan dengan rasa, sehingga pengakuan itu mucul sebagai yang amat personal. Ainom menyadari itu sungguh.

***

Perjumpaan itu terjadi pada malam Lebaran kedua, 22 September 2009. Ketika itu, kebisingan Meulaboh menyeret Ainom untuk mengungsi ke arah kuburan massal di Ujung Karang Meulaboh Aceh Barat.

 Ainom tiba di halaman pekuburan kira-kira selepas Magrib, sama sekali tidak ada seorang pun di sana. Tapi entah mengapa Ainom tidak merasa takut sedikitpun. Yang justru muncul dalam ruang rasanya adalah perasaan malu. Karena toh….ia tidak mempersiapkan diri untuk menjumpai mereka… Ainom tidak membawa karangan bunga, ia hanya hendak menenangkan diri. Itu saja.

 Dari kuburan massal, sesekali terdengar letusan petasan yang dilemparkan anak-anak ke udara. Langit Meulaboh pun bercahaya. Hati Ainom gundah. Ia membenci keramaian seperti itu. Dari pesisir karang, deburan gelombang bertubi menampar malam. Malam pun bersuara. Ainom pun benci suara itu.

 Tapi di tengah kuburan malam itu, hanya ada senyap yang tenteram. Bathin yang damai. Tiba-tiba dalam ruang rasa berkelebat sekumpulan tanya yang memaksakan Ainom untuk menjumpai sesuatu. Dan malam itu Ainom menjumpai kepasrahaan yang total, kepergian yang tulus, kehilangan yang ikhlas.

 Ia menemukan pribadi-pribadi yang sudah dengan tulus menerima peristiwa dan mau melebur di dalamnya. Bahwa mereka memang sudah ditakdirkan untuk pergi menemukan kehidupan yang baru bagi Nanggroe Aceh ke depan.

 Ainom meneteskan air mata. Air mata kepasrahan dan kegembiraan. Sungguh tak tertahankan. Dalam hatinya Ainom hanya bisa berpasrah “Mengapa yang hidup harus mati, hanya untuk sebuah kehidupan yang lain. Padahal kehidupan yang sedang dijalani begitu sebentar” Ainom merenung dan menjawab sendiri.

 Dari tepi nisan tak bernama, dada Ainom memberontak. Ia larut dalam kebencian. Ia benci suara petasan apalagi deru ombak. Bunyi petasan itu mengingatkannya pada bunyi mesiu perang yang sekian lama mengoyakkan Aceh tanah tumpah darahnya. Dan deru ombak mengenangkan akan dasyatnya gempa dan tsunami. Dan karena dua hal itu ada kehidupan yang harus mati, dan kematian yang menghidupkan.

 Ainom seperti harus menerima air mata dan senyum. Sesekali air mata, sesekali senyum. Sesakli pula serentak. Walau sesungguhnya di balik dada perawannya. Ia mengucapkan syukur kepada Allah, bahwa semuanya sudah selesai hanya karena sebuah pengorbanan yang tulus. 

***

Peristiwa gempa dan tsunami 26 Desember 2004 yang menelan ribuan jiwa di Nanggroe Aceh Darussalam adalah sebuah peristiwa kehidupan. Mereka yang meninggal dunia adalah korban yang sesungguhnya dari konflik berkepanjangan. Mereka adalah pejuang kehidupan. Mereka juga adalah bagian dari harta Allah yang sesungguhnya, yang harus diselamatkan dari segala situasi yang terjadi. Mereka adalah para syuhada. Ainom akhirnya menemukan jawabannya.

 Tapi sayang tidak ada satu pun dari sahabat dan kenalannya yang menyadari keberadaan mereka sebagai pahlawan. Apalagi menyadari kejadian itu sebagai peristiwa kehidupan. Sahabat dan kenalannya terjebak dalam pandangan bahwa ribuan orang itu adalah ‘korban’, dan kepergian mereka sebagai ‘kematian’. Sungguh sangat disayangkan.

 Di tengah malam itu Ainom temukan sederetan kehidupan yang akan selalu hidup yakni ketulusan, keikhlasan, dan totalitas kepergian mereka. Ainom menemukan sebuah peristiwa kehidupan. Sesuatu yang sulit diterima dengan akal sehat, tetapi dimaklumi oleh hati. Hanya hati yang bisa menerima dan memahami peristiwa itu. Inilah rahasia peristiwa. Di tepi nisan tak bernama itu Ainom tertidur hingga fajar membangunkannya***

 sudah dimuat di http://www.wikimu.com/News/DisplayNewsSastra.aspx?id=15899

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Jurnalisme Warga Komunitas Pedesaan

5 Desember 2009 at 11:49 (Catatan Somerpes) (, , , , , )

salah satu khasanah nilai dan kearifan lokal yang mesti dilestarikan adalah tarian dan syair. Foto ini adalah penggalan teater tari dodaidi damai, yang dipentaskan Komunitas Seni Damee Meulaboh Aceh Barat

“Pada masa konflik, semua orang tidak tahu kalau perempuan itu tidak memihak kepada siapa-siapa” Kisah Kak Cut, salah seorang perempuan korban konflik dari desa Glee Siblah, Woyla Aceh Barat, Nanggore Aceh Darusalllam. Ka Cut baru mengisahkan kembali setelah empat tahun penandatanganan MoU Helsinki. ”Kadang-kadang TNI datang ke rumah saya dan meminta makan, kadang-kadang juga anggota GAM datang ke rumah minta makan atau dibuatkan kopi” kisahnya lebih lanjut.

 “Mau tidak kasih salah, saya kasihan lihat mereka. Mereka lapar. Mau kasih hanya satu pihak  juga salah karena semuanya membutuhkan makanan. Nanti dibilang saya tidak adil. Saya capek juga begitu terus, terus saya marah-marah mereka, kenapa kalian mau tembak-tembak kalau akhirnya kalian minta makan ke rumah saya?” pertanyaan itu membuat anggota GAM yang sering mampir ke rumahnya tersenyum, demikian juga dengan TNI yang datang silih berganti.

 ”Mereka menganggap lucu pertanyaan saya,  tapi saya kesal juga dengan mereka…saya bilang ke mereka, kalian bukan hanya bikin perempuan Aceh banyak jadi janda, tetapi juga kelapa-kelapa di kebun, hewan peliharaan kami banyak kehilangan pasangannya dan menjadi janda juga” ceplos Ka Cut di hadapan TNI atau anggota GAM kebetulan datang menyinggahi rumahnya.

 Kisah Ka Cut di atas, masih hanya satu kisah yang sempat saya catat. Ada ribuan dan bahkan jutaan kisah lain yang menarik, menyentuh mata hati, menggugah khasanah berpikir dan membuat banyak tanya dalam ruang kepala saya akan potensi dan khasanah kearifan lokal berupa cerita penuh nilai, kisah-kisah bermakna dan tuturan bijaksana yang tersebar di komunitas pedesaan.

 Sejarah tidak akan pernah berulang secara persis sama. Ka Cut dan ribuan perempuan Aceh yang mengalami konflik langsung belasan atau puluhan tahun lagi akan tiada. Mereka akan pergi bersama cerita dan kisah perjuangan mereka. Padahal jika mau mendengar dengan lebih setia, melihat dengan lebih dekat, dan belajar langsung dari komunitas pedesaan, sebenarnya perempuan Aceh di masa konflik adalah kaum pembawa damai, makhluk berbelas kasih.

 Karena peran mereka yang dianggap tidak memihak, ketulusan mereka untuk memberi dan mengajarkan nilai-nilai, mereka pun menjadi korban, dan menjadi tempat pelampiasan geramnya perang yang memuncak. Sampai pada titik ini, air mata saya tumpah. Saya tidak dapat membayangkan mengapa perempuan Aceh harus tersingkir dari ruang publik pasa penandatangan MoU Helsinki. Mengapa mereka tidak mendapat peran signifikan dalam ruang publik.

 Mengumpat dan memarahi, lantas mencari siapa atau apa kambing hitam yang menyebabkan perempuan Aceh tersingkir dari ruang publik, menurut hemat saya tidaklah terlalu tepat.  Justru sebaliknya melahirkan tanya yang selalu menyentak ruang kesadaran saya ”Melihat fakta, apa yang seharusnya engkau buat?”

 Pemakluman inilah akhirnya menimbulkan kesadaran dalam diri saya untuk memulai sesuatu yang mungkin tidak berarti oleh kebanyakan orang. Pertama, saya meminta semua perempuan Aceh pedesaan yang saya jumpai untuk berkisah tentang pengelaman mereka semasa konflik. Saya bukan bermaksud untuk membuka luka bathin mereka, tetapi menganjurkan kepada mereka untuk mengatakan identitas mereka yang sesungguhnya bahwa mereka tidak pantas untuk untuk diabaikan di ruang publik.

 Kedua, dalam keterbatasan waktu kerja yang padat, saya mencoba menulis kembali kisah-kisah itu, sambil sesekali pula mendampingi perempuan-perempuan Aceh, khususnya di desa dampingan di Bubon dan Woyla Aceh Barat untuk belajar membaca dan menulis. Membaca tentang bacaan apa saja, dan menulis tentang kisah apa saja, semau dan sekehendak mereka, semampu mereka. Saya menghendaki mereka menulis apa yang mereka kisahkan.

 Berdasarkan catatan pengelaman saya tentang hal ini, proses untuk sampai membuat perempuan pedesaan menulis memang menemui banyak masalah. Selain karena mayoritas mereka tidak dapat membaca, juga karena menulis adalah sebuah pekerjaan yang bagi mereka sangatlah berat dan menyita energi. Tetapi itulah proses. Bagi saya, semuanya harus dimulai sejak hari ini, karena apa yang terjadi seperti hari ini tidak akan pernah kembali secara persis sama.

 Ketiga, mengajarkan dan mendampingi anak-anak di pedesaan untuk memulai belajar membaca dan menulis. Membaca tentang apa saja, selanjutnya menulis tentang apa saja. Membaca fakta kehidupan, selanjutnya menuliskan tentang fakta itu. Mereka mengisahkan cerita kepada kawan dan sahabat mereka, tidak melulu secara lisan, tetapi juga dalam tulisan. Cerita lisan akan punah seiring perjalanan waktu dan sejarah, tetapi tulisan akan menjadi kisah yang selalu dibaca, walaupun apa yang mereka tulis mungkin biasa-biasa saja.

 Tiga aktivitas di atas yang membuat saya terlibat dan banyak belajar dari komunitas pedesaan. Bagi saya inilah hakikat jurnalisme warga komunitas pedesaan. Mereka mengatakan tentang apa saja pengalaman mereka dalam tulisan, walau dalam selembar kertas kusam. Selanjutnya kisah dan cerita itu mereka baca untuk dicerna dan dimaknai untuk mereka sendiri dan untuk siapa pun. Bagi saya salah satu strategi mengembalikan peran perempuan Aceh dalam ruam publik dan mengatakan tentang idenstitas mereka yang sesungguhnya adalah melalui jurnalisme warga komunitas pedesaan.

 Hanya dengan menulis tentang sesuatu, orang dapat membaca dan mengetahui tentang sesuatu, selanjutnya dengan mengetahui sesuatu orang dapat merubah tentang sesuatu. Dan semua kisah dan tulisan tentang sesuatu harus dimulai dari komunitas pedesaan, sebab di sanalah sejatinya para jurnalis itu berada. Biarkan mereka menulis apa yang mereka punyai, biarkan mereka mewartakan apa yang hendak mereka wartakan. Semoga sekiranya ’sabda’ mereka dapat mengubah dunia.

 Sudah dimuat di: http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/05/jurnulisme-warga-komunitas-pedesaan/

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Bertanya Kepada Descartes

14 November 2009 at 02:23 (Menulis Somerpes) (, , )

  Cogito Ergo Sum, Aku berpikir maka Aku Ada, adalah untaian kata-kata yang terkenal dari seorang Rene Descartes (atau Latin-Renatus Cartesius, 1596-1650). Di Neubau (dekat kota Ulm Jerman) dalam sebuah ‘pengalaman menara’ sang filsuf menemukan sederetan kata tersebut. Cogito Ergo Sum merupakan buah dari perjalanan intelektual yang panjang dari seorang Descartes, lantas sudah sejak itu seluruh bangunan filsafatnya dibangun dan hingga kini tidak seorang filsufpun yang sanggup merobohkannya.

Hampir sebagian besar hidup Descartes hanya dihabiskan dengan bertanya ‘apakah ada metode yang pasti sebagai dasar untuk melakukan refleksi filosofis?’ Untuk menjawab pertanyaan ini Descartes melakukan apa yang kemudian disebut sebagai sikap keraguan-keraguan atau kesangsian yang radikal. Ia menganggap segala sesuatu yang ada hanyalah tipuan, dan tidak menerima apapun yang ada sebagai yang benar, jika tidak memahaminya dengan jelas dan terpisah-pisah. Dan hanya yang bisa dipahami secara jelas dan terpisah-pisah itulah yang menjadi norma untuk menentukan kepastian dan kebenaran.

Namun, jika segala sesuatu diragukan keberadaannya, ada satu hal yang sama sekali tidak bisa diragukan lagi, sehingga harus diterima secara mutlak yakni kenyataan bahwa Aku yang sedang meragukan atau menyangsikan segala sesuatu itu ada “Saat aku mencermati dan berpikir bahwa segala sesuatu adalah salah…pada saat itu aku menyadari kebenaran ini: Aku berpikir maka aku ada…sehingga aku merasa yakin aku bisa menerima kebenaran ini sebagai perinsip pertama filsafat yang tengah aku cari” Titik.

Saya langsung melempar tanya, apa yang dapat ditimba dari petualangan intelektual seorang Descartes untuk sesuatu yang sederhana semisal belajar menulis?

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Bayar Uang Sekolah Dengan Tahi Sapi

11 Oktober 2009 at 04:37 (Catatan Somerpes) (, , , , , , )

baku peduli

Selain sekolah padang yang direncanakan, sekarang sedang dikembangkan komunitas Baku Peduli. Baku Peduli adalah program beasiswa milik publik yang dikelola oleh SUNSPIRIT FOR JUSTICE AND PEACE (http://forjusticeandpeace.wordpress.com) dengan menggalang dukungan dana untuk pendidikan bagi putera-puteri terbaik Indonesia Timur agar mendapatkan pendidikan tinggi yang berkualitas yang mempersiapkan mereka menjadi kader transformasi sosial di komunitas asal mereka.

Rekan saya, Bertolomeus Saleh dari SUNSPIRIT For Justice and Peace, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang concern di bidang pemberdayaan masyarakat dan pembangunan perdamaian di Laktutus Timor NTT, suatu ketika mengirim pesan singkat bahwa pada tahun 2010 akan membuat sebuah ’sekolah padang’, sebuah penamaan lain untuk ’sekolah alam’.  Demikian bunyi pesan singkatnya:

 ”Kawan, tahun depan kami mau bikin sekolah padang, uang sekolah dari tahi sapi. Setiap minggu anak-anak bawa tahi sapi, kemudian bersama-sama mengolahnya menjadi pupuk oragnik. Kasihan mereka belum bisa baca tulis, jadi kita coba belajar sama-sama. Siapa tahu tahi sapi bisa bikin orang pintar. Kawan tahu sendiri, di Laktutus Timor banyak sekali sapi dan tahinya terbuang begitu saja”

 Demikian bunyi pesan singkat itu. Saya lantas membalasnya dengan memintanya untuk menjadikan saja ’mimpi’ itu sebuah kenyataan. Kemudian, dalam balasan pesan singkatnya, kawan saya menjawab bahwa media dan metode pendidikan seperti ini akan lebih efektif menjawab kebutuhan lingkungan setempat. Anak-anak lebih leluasa menjawab kebutuhan dasar mereka akan sesuatu yang baru. Tugasnya bukan guru, tetapi hanya sebagai fasilitator yang secara bersama para murid menggali potensi-potensi yang tersembunyi dalam diri peserta didik, dalam alam sekitar, bahkan dalam dirinya sendiri sebagai fasilitator.

 Saya membalas kembali pesan singkatnya, bahwa ’Inilah model pendidikan yang kontekstual, cerdas menjawab kebutuhan, kreatif dan inovatif’. Saya menyebutnya kreatif dan inovatif karena hanya dengan metode dan model pendidikan yang komunikatif-dialogik seperti ini perubahan dapat terwujud. Perubahan yang dimaksud mencakup dalam banyak hal, bukan hanya sistem, model dan metode pendidikan yang akan diperbaharui, tetapi juga cara pandang dan kesadaraan terhadap peserta didik, guru sebagai fasilitator pendidikan, terhadap lingkungan sosial dan juga lingkungan alam sekitar akan berubah.

 Saya lantas teringat kembali dengan Pendidikan Kaum Tertindas-nya Paulo Freire (LP3ES:2008). Freire mengatakan bahwa rasion d’etre pendidikan yang membebaskan terletak pada usaha ke arah rekonsiliasi. Pendidikan harus dimulai dengan pemecahan masalah kontradiksi guru-murid, sehingga kedua-duanya secara bersamaan adalah guru dan murid. Bukan sebaliknya membuka ruang antara keduanya seakan-akan guru adalah seorang penabung sementara murid adalah celengan.

 Sekolah padang yang diidealkan kawan saya di atas sebetulnya merupakan sebuah tindakan dan sikap penolakan atas sistem dan situasi disekitarnya, yang mana anak didik dianggap sebagai sesuatu yang asing dengan dirinya sendiri dan bahkan dianggap sebagai obyek yang bodoh, juga guru dianggap sebagai pihak yang berkelimpahan ilmu pengetahuan. Sementara model dan metode pendidikan yang ideal adalah antara guru dan murid tidak tersekat ruang dan jarak. Antara guru dan murid terbangun komunikasi yang saling melengkapi.

 Maka tepat seperti apa yang ditegaskan Freire, bahwa esensi pendidikan yang membebaskan adalah komunikasi. Antara guru dan murid dibangun hubungan dialogis- keduanya sama-sama mengamati obyek yang sama. Melalui dialog, guru-nya-murid serta murid-nya-guru tidak ada lagi  dan justru yang muncul adalah sebuah suasana baru: yakni guru-yang-murid dan murid-yang-guru.

 Dengan dan dalam perspektip ini, guru tidak lagi menjadi orang yang mengajar, tetapi orang yang mengajarkan dirinya sendiri melalui dialog dengan para murid, yang  pada gilirannya di samping diajar mereka juga mengajar. Mereka semua bertanggung jawab terhadap suatu proses tempat mereka bertumbuh dan berkembang.

 Jika model dan metode pendidikan seperti ini yang di terapkan, bukan hanya seperti yang diimpikan kawan saya, tetapi impian bagi seluruh sistem pendidikan yang ada di tanah air ini yang mau menjadikan pendidikan sebagai modal dasar pembebasan dari kultur/kebiasaan yang mengekang, sistem sosial yang timpang, biaya pendidikan atau uang sekolah yang mahal, kurikulum yang sentralistik sungguh akan membawa perubahan yang luar biasa dalam dunia pendidikan kita.

Catatan: kunjungi pula- http://bakupeduli.wordpress.com

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »