Jurnalisme Warga Komunitas Pedesaan

salah satu khasanah nilai dan kearifan lokal yang mesti dilestarikan adalah tarian dan syair. Foto ini adalah penggalan teater tari dodaidi damai, yang dipentaskan Komunitas Seni Damee Meulaboh Aceh Barat
“Pada masa konflik, semua orang tidak tahu kalau perempuan itu tidak memihak kepada siapa-siapa” Kisah Kak Cut, salah seorang perempuan korban konflik dari desa Glee Siblah, Woyla Aceh Barat, Nanggore Aceh Darusalllam. Ka Cut baru mengisahkan kembali setelah empat tahun penandatanganan MoU Helsinki. ”Kadang-kadang TNI datang ke rumah saya dan meminta makan, kadang-kadang juga anggota GAM datang ke rumah minta makan atau dibuatkan kopi” kisahnya lebih lanjut.
“Mau tidak kasih salah, saya kasihan lihat mereka. Mereka lapar. Mau kasih hanya satu pihak juga salah karena semuanya membutuhkan makanan. Nanti dibilang saya tidak adil. Saya capek juga begitu terus, terus saya marah-marah mereka, kenapa kalian mau tembak-tembak kalau akhirnya kalian minta makan ke rumah saya?” pertanyaan itu membuat anggota GAM yang sering mampir ke rumahnya tersenyum, demikian juga dengan TNI yang datang silih berganti.
”Mereka menganggap lucu pertanyaan saya, tapi saya kesal juga dengan mereka…saya bilang ke mereka, kalian bukan hanya bikin perempuan Aceh banyak jadi janda, tetapi juga kelapa-kelapa di kebun, hewan peliharaan kami banyak kehilangan pasangannya dan menjadi janda juga” ceplos Ka Cut di hadapan TNI atau anggota GAM kebetulan datang menyinggahi rumahnya.
Kisah Ka Cut di atas, masih hanya satu kisah yang sempat saya catat. Ada ribuan dan bahkan jutaan kisah lain yang menarik, menyentuh mata hati, menggugah khasanah berpikir dan membuat banyak tanya dalam ruang kepala saya akan potensi dan khasanah kearifan lokal berupa cerita penuh nilai, kisah-kisah bermakna dan tuturan bijaksana yang tersebar di komunitas pedesaan.
Sejarah tidak akan pernah berulang secara persis sama. Ka Cut dan ribuan perempuan Aceh yang mengalami konflik langsung belasan atau puluhan tahun lagi akan tiada. Mereka akan pergi bersama cerita dan kisah perjuangan mereka. Padahal jika mau mendengar dengan lebih setia, melihat dengan lebih dekat, dan belajar langsung dari komunitas pedesaan, sebenarnya perempuan Aceh di masa konflik adalah kaum pembawa damai, makhluk berbelas kasih.
Karena peran mereka yang dianggap tidak memihak, ketulusan mereka untuk memberi dan mengajarkan nilai-nilai, mereka pun menjadi korban, dan menjadi tempat pelampiasan geramnya perang yang memuncak. Sampai pada titik ini, air mata saya tumpah. Saya tidak dapat membayangkan mengapa perempuan Aceh harus tersingkir dari ruang publik pasa penandatangan MoU Helsinki. Mengapa mereka tidak mendapat peran signifikan dalam ruang publik.
Mengumpat dan memarahi, lantas mencari siapa atau apa kambing hitam yang menyebabkan perempuan Aceh tersingkir dari ruang publik, menurut hemat saya tidaklah terlalu tepat. Justru sebaliknya melahirkan tanya yang selalu menyentak ruang kesadaran saya ”Melihat fakta, apa yang seharusnya engkau buat?”
Pemakluman inilah akhirnya menimbulkan kesadaran dalam diri saya untuk memulai sesuatu yang mungkin tidak berarti oleh kebanyakan orang. Pertama, saya meminta semua perempuan Aceh pedesaan yang saya jumpai untuk berkisah tentang pengelaman mereka semasa konflik. Saya bukan bermaksud untuk membuka luka bathin mereka, tetapi menganjurkan kepada mereka untuk mengatakan identitas mereka yang sesungguhnya bahwa mereka tidak pantas untuk untuk diabaikan di ruang publik.
Kedua, dalam keterbatasan waktu kerja yang padat, saya mencoba menulis kembali kisah-kisah itu, sambil sesekali pula mendampingi perempuan-perempuan Aceh, khususnya di desa dampingan di Bubon dan Woyla Aceh Barat untuk belajar membaca dan menulis. Membaca tentang bacaan apa saja, dan menulis tentang kisah apa saja, semau dan sekehendak mereka, semampu mereka. Saya menghendaki mereka menulis apa yang mereka kisahkan.
Berdasarkan catatan pengelaman saya tentang hal ini, proses untuk sampai membuat perempuan pedesaan menulis memang menemui banyak masalah. Selain karena mayoritas mereka tidak dapat membaca, juga karena menulis adalah sebuah pekerjaan yang bagi mereka sangatlah berat dan menyita energi. Tetapi itulah proses. Bagi saya, semuanya harus dimulai sejak hari ini, karena apa yang terjadi seperti hari ini tidak akan pernah kembali secara persis sama.
Ketiga, mengajarkan dan mendampingi anak-anak di pedesaan untuk memulai belajar membaca dan menulis. Membaca tentang apa saja, selanjutnya menulis tentang apa saja. Membaca fakta kehidupan, selanjutnya menuliskan tentang fakta itu. Mereka mengisahkan cerita kepada kawan dan sahabat mereka, tidak melulu secara lisan, tetapi juga dalam tulisan. Cerita lisan akan punah seiring perjalanan waktu dan sejarah, tetapi tulisan akan menjadi kisah yang selalu dibaca, walaupun apa yang mereka tulis mungkin biasa-biasa saja.
Tiga aktivitas di atas yang membuat saya terlibat dan banyak belajar dari komunitas pedesaan. Bagi saya inilah hakikat jurnalisme warga komunitas pedesaan. Mereka mengatakan tentang apa saja pengalaman mereka dalam tulisan, walau dalam selembar kertas kusam. Selanjutnya kisah dan cerita itu mereka baca untuk dicerna dan dimaknai untuk mereka sendiri dan untuk siapa pun. Bagi saya salah satu strategi mengembalikan peran perempuan Aceh dalam ruam publik dan mengatakan tentang idenstitas mereka yang sesungguhnya adalah melalui jurnalisme warga komunitas pedesaan.
Hanya dengan menulis tentang sesuatu, orang dapat membaca dan mengetahui tentang sesuatu, selanjutnya dengan mengetahui sesuatu orang dapat merubah tentang sesuatu. Dan semua kisah dan tulisan tentang sesuatu harus dimulai dari komunitas pedesaan, sebab di sanalah sejatinya para jurnalis itu berada. Biarkan mereka menulis apa yang mereka punyai, biarkan mereka mewartakan apa yang hendak mereka wartakan. Semoga sekiranya ’sabda’ mereka dapat mengubah dunia.
Sudah dimuat di: http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/05/jurnulisme-warga-komunitas-pedesaan/
Bayar Uang Sekolah Dengan Tahi Sapi

Selain sekolah padang yang direncanakan, sekarang sedang dikembangkan komunitas Baku Peduli. Baku Peduli adalah program beasiswa milik publik yang dikelola oleh SUNSPIRIT FOR JUSTICE AND PEACE (http://forjusticeandpeace.wordpress.com) dengan menggalang dukungan dana untuk pendidikan bagi putera-puteri terbaik Indonesia Timur agar mendapatkan pendidikan tinggi yang berkualitas yang mempersiapkan mereka menjadi kader transformasi sosial di komunitas asal mereka.
Rekan saya, Bertolomeus Saleh dari SUNSPIRIT For Justice and Peace, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang concern di bidang pemberdayaan masyarakat dan pembangunan perdamaian di Laktutus Timor NTT, suatu ketika mengirim pesan singkat bahwa pada tahun 2010 akan membuat sebuah ’sekolah padang’, sebuah penamaan lain untuk ’sekolah alam’. Demikian bunyi pesan singkatnya:
”Kawan, tahun depan kami mau bikin sekolah padang, uang sekolah dari tahi sapi. Setiap minggu anak-anak bawa tahi sapi, kemudian bersama-sama mengolahnya menjadi pupuk oragnik. Kasihan mereka belum bisa baca tulis, jadi kita coba belajar sama-sama. Siapa tahu tahi sapi bisa bikin orang pintar. Kawan tahu sendiri, di Laktutus Timor banyak sekali sapi dan tahinya terbuang begitu saja”
Demikian bunyi pesan singkat itu. Saya lantas membalasnya dengan memintanya untuk menjadikan saja ’mimpi’ itu sebuah kenyataan. Kemudian, dalam balasan pesan singkatnya, kawan saya menjawab bahwa media dan metode pendidikan seperti ini akan lebih efektif menjawab kebutuhan lingkungan setempat. Anak-anak lebih leluasa menjawab kebutuhan dasar mereka akan sesuatu yang baru. Tugasnya bukan guru, tetapi hanya sebagai fasilitator yang secara bersama para murid menggali potensi-potensi yang tersembunyi dalam diri peserta didik, dalam alam sekitar, bahkan dalam dirinya sendiri sebagai fasilitator.
Saya membalas kembali pesan singkatnya, bahwa ’Inilah model pendidikan yang kontekstual, cerdas menjawab kebutuhan, kreatif dan inovatif’. Saya menyebutnya kreatif dan inovatif karena hanya dengan metode dan model pendidikan yang komunikatif-dialogik seperti ini perubahan dapat terwujud. Perubahan yang dimaksud mencakup dalam banyak hal, bukan hanya sistem, model dan metode pendidikan yang akan diperbaharui, tetapi juga cara pandang dan kesadaraan terhadap peserta didik, guru sebagai fasilitator pendidikan, terhadap lingkungan sosial dan juga lingkungan alam sekitar akan berubah.
Saya lantas teringat kembali dengan Pendidikan Kaum Tertindas-nya Paulo Freire (LP3ES:2008). Freire mengatakan bahwa rasion d’etre pendidikan yang membebaskan terletak pada usaha ke arah rekonsiliasi. Pendidikan harus dimulai dengan pemecahan masalah kontradiksi guru-murid, sehingga kedua-duanya secara bersamaan adalah guru dan murid. Bukan sebaliknya membuka ruang antara keduanya seakan-akan guru adalah seorang penabung sementara murid adalah celengan.
Sekolah padang yang diidealkan kawan saya di atas sebetulnya merupakan sebuah tindakan dan sikap penolakan atas sistem dan situasi disekitarnya, yang mana anak didik dianggap sebagai sesuatu yang asing dengan dirinya sendiri dan bahkan dianggap sebagai obyek yang bodoh, juga guru dianggap sebagai pihak yang berkelimpahan ilmu pengetahuan. Sementara model dan metode pendidikan yang ideal adalah antara guru dan murid tidak tersekat ruang dan jarak. Antara guru dan murid terbangun komunikasi yang saling melengkapi.
Maka tepat seperti apa yang ditegaskan Freire, bahwa esensi pendidikan yang membebaskan adalah komunikasi. Antara guru dan murid dibangun hubungan dialogis- keduanya sama-sama mengamati obyek yang sama. Melalui dialog, guru-nya-murid serta murid-nya-guru tidak ada lagi dan justru yang muncul adalah sebuah suasana baru: yakni guru-yang-murid dan murid-yang-guru.
Dengan dan dalam perspektip ini, guru tidak lagi menjadi orang yang mengajar, tetapi orang yang mengajarkan dirinya sendiri melalui dialog dengan para murid, yang pada gilirannya di samping diajar mereka juga mengajar. Mereka semua bertanggung jawab terhadap suatu proses tempat mereka bertumbuh dan berkembang.
Jika model dan metode pendidikan seperti ini yang di terapkan, bukan hanya seperti yang diimpikan kawan saya, tetapi impian bagi seluruh sistem pendidikan yang ada di tanah air ini yang mau menjadikan pendidikan sebagai modal dasar pembebasan dari kultur/kebiasaan yang mengekang, sistem sosial yang timpang, biaya pendidikan atau uang sekolah yang mahal, kurikulum yang sentralistik sungguh akan membawa perubahan yang luar biasa dalam dunia pendidikan kita.
Catatan: kunjungi pula- http://bakupeduli.wordpress.com

